Senin, 29 Oktober 2012


“Studi Islam Klasik :
Perkembangan dan Kontribusinya Bagi Ilmu Pengetahuan ”
Oleh Abd Qohin

I.     Latar Belakang
Agama diturunkan di muka bumi untuk kemaslahatan manusia termasuk kehadiran Agama Islam. Ajaran Islam yang di bawa oleh tentu dalam rangka kemaslahatan umat seluruh dunia. Bagi pemeluknya meyakini tujuan Islam hadir di muka bumi ini tidak lain adalah terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Dan meyakini Islam sebagai agama yang benar adalah sebuah keniscayaan bagi pemeluknya, karena di dalamnya berisi petunjuk-petunjuk hidup yang sangat bermanfaat bagi umat manusia.
Gambaran Islam yang demikian pernah dibuktikan dalam sejarah dan peradaban Islam. Sejarah dan peradaban Islam merupakan bagian penting yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Betapa tidak, dengan memahami sejarah secara baik dan benar, kaum muslimin dapat bercermin diri untuk mengambil banyak pelajaran kebaikan dan membenahi kekurangan (kesalahan) mereka guna meraih kejayaan dan kemuliaan di dunia dan akhirat sebagaimana tujuan Islam hadir di bumi.
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Karena sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta perkembangan kehidupan umaat manusia. Sumber utama ajaran Islam adalah al qur’anyang mengandung banyak sekali nilai-nilai kesejarahan, yang langsung dan tidak langsung mengandung makna besar, pelajaran yang sangat tinggi dan pimpinan utama, khususnya bagi umat Islam. Maka tarikh dan ilmu mempunyai kegunaan dalam Islam menduduki arti penting dan mempunyai kegunaan dalam kajian Islam.
Sejarah islam merupakan bagian dari studi Islam yang banyak menarik perhatian para sarjana muslim maupun non muslim karena banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari penelitian tersebut. Bagi umat Islam mempelajari sejarah Islam akan memunculkan kebanggaan tersendiri karena Islam pernah mengalami kemajuan dan menguasai peradaban beratus-ratus dalam segala bidang. Dengan demikian mempelajarinya akan membangkitkan semangat dan rasa percaya diri sebagai seorang muslim. Disamping itu peradaban Islam juga pernah mengalami era kemunduran dan keterbelakangan. Dengan demikian akan menyadarkan umat muslim untuk berfikir, bangkit dalam rangka mengembalikan kejayaan yang sebagaimana pada masa kejayaan Islam.
Selama 15 abad, khazanah Intelektual Islam belum pernah terputus, khasanah intelektual Islam masih terpelihara kokoh dalam aneka ragam budaya bangsa yang memeluk agama Islam, baik mengambil bentu literature, lembaga pendidikan agama, seni bangunan dan lain sebagainya. Sebelum dunia barat memasuki era renaissance dan aufklarung, peradaban Islam secara historis telah lebih dahulu mengukir perjalanan peradaban dunia selama 7 abad (dari abad 7 sampai abad 14).[1]
Oleh karena itu, untuk memperoleh gambaran tentang peradaban Islam yang pernah mengalami kejayaan tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini tidak lain adalah ingin melihat kejayaan peradaban Islam di era klasik. Tujuannya tidak lain adalah membangkitkan motivasi dan semangat serta menyadarkan kita untuk memperbaiki keadaan umat Islam yang  sampai hari ini dalam kategori mengalami kemunduran dalam segala bidang. Untuk itulah Fokus kajian kita arahkan untuk menggali informasi tentang studi Islam yang terjadi pada era klasik  serta  menelusuri jejak-jejak sejarah peradaban Islam di tinjau dari aspek metodologi Islam pada ini.

II.     Perkembangan Studi Islam Klasik
A.       Periodesasi Studi Islam Klasik
Secara garis besar sejarah Islam di kelompokkan dalam tiga periode besar, yaitu periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800 M sampai sekarang). Periode klasik merupakan jaman kemajuan dan di bagi ke dalam dua fase.[2] Fase Pertama, fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan. Di jaman inilah daerah Islam meluas melalui Afrika utara sampai ke Spanyol di barat dan melalui Persia sampai India di Timur. Daerah itu tunduk pada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damsyik dan berakhir di Baghdad. Di masa ini pulalah berkembang dan memuncak ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama, bidang non agama maupun bidang kebudayaan Islam.
Pada  Zaman ini yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam ibn Hambal dalam bidang hukum; Imam Asy’ari, Imam Al Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Washil bin Ata, Abu Al Huzail, Al Nazzam, Al Jubbay dalam bidang teologi ; Zunnun al Misri, Abu Yazid Al Bustami dan Al Hallaj dalam mistisisme atau tasawuf; Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina dan Ibn Miskawih dalam filsafat; Ibn Al Haysam, Ibn Hayyan, Al Khawarizmi, Al Mas’udi dan Al Razi dalam bidang ilmu pengetahuan.
Periode klasik ini merupakan periode kebudayaan dan peradaban Islam yang tertinggi dan mempunyai pengaruh terhadap tercapainya kemajuan atau peradaban modern di Barat sekarang,sungguhpun tidak dengan secara langsung. Hal ini banyak di akui sarjana barat sebagaimana yang dikatakan Jacques C. Rislar yang menyatakan bahwa “ilmu pengetahuan dan teknik Islam amat dalam memengaruhi kebudayaan Barat. Atau ungkapan Romm Landayu, dari hasil penelitiannya mengambil kesimpulan bahwa “dari orang Islam periode klasik inilah orang Barat belajar berfikir serta objektif dan logis, dan belajar lapangdada.
Fase Kedua, fase disintegrasi (1000-1250 M). Di masa keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, kekuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dan dapat dihancurkan oleh hulagu di tahun 1258 M. Khalifah sebagai lambang kekuasaan politik politik umat Islam, hilang.[3] Fase disintegrasi merupakan fase di mana pemisahan diri dinasti-dinasti dari kekuasaan pusat, dilanjutkan dengan perebutan kekuasaan antara dinasti-dinasti tersebut untuk menguasai satu sama lain.
Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah, mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat nominal. Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan.[4]

B.       Studi Islam Pada Masa Nabi
Beberapa pendapat para ahli tentang periodesasi sejarah Islam dikalangan pada ahli sejarah terdapat beberapa pandangan tentang kapan di mulainya sejarah Islam yang telah berusia empat abad ini. Menurut Sa’ad Ramadhan periode klasik bermula ketika Nabi Muhamad SAW diutus oleh Alloh menjadi Rasul. Ada yang berpendapat bahwa periode ini ditandai oelh peristiwa hijrah Rasul ke Madinah. Nabi Muhamad membuat persetujuan dengan sejumlah penduduk Yatsrib yang terkemuka membuat Nabi beserta pengikutnya diterima di kalangan mereka. Di dahului kelompok kecil yang bisa dipercaya kemudian Nabi Hijrah ke yatsrib. Kemudian Yatsrib di sebut Madinah (Madinah Al Rasul).[5]
Nabi Muhammad di utus dengan Al qur’an sebagai penyangga utama. Pada saat itu masyarakat jahiliyyah sangat senang dengan kesusasteraan, maka Al Qur’an diturunkan dengan bahasa sastra seperti yang lazim dipakai oleh masyarakatnya. Hal tersebut atas dasar pertimbangan untuk menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakat, sehingga dengan demikian bisa komunikatif serta untuk menantang dan mengungguli syair-syair jahiliyah atau kepandaian orang arab yang bersyair.
Pada periode ini kedudukan Nabi Muhammad adalah sebagai referensi bagi para sahabat dan umatnya. Setiap ada peristiwa dan ada masalah semuanya langsung ditanyakan kepada Nabi Muhammad. Pada Masa ini Al Qur’an dan hadits di jadikan sebagai rujukan langsung setiap ada persoalan. Pada masa ini kedudukan Al Qur’an sebagai pedoman dan sandaran.
Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur'an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. [6] Penulisan Al Qur’an diyakini telah mulai sejak era Nabi di Makkah.[7] Tapi penulisannya secara lebih sistematis baru di mulai di Madinah. Khususnya setelah Nabi menunjuk beberapa sahabatnya untuk melakukan tugas ini. Muawiyah bin Abi Sofyan, Ubay bin Kaab, Zayd bin Tsabit, dan Abdullah bin Mas’ud, adalah nama-nama yang biasa disebut sebagai penulis wahyu. Sejak masa Nabi, Al Qur’an telah di tulis pada beragam medium, sebagian dari para sahabat mengumpulkan ayat-ayat itu dan menjilidnya menjadi sebuah mushaf.  Tapi seperti disinggung di atas, pengumpulan Al Qur’an menjadi mushaf pada masa Nabi tidak pernah sempurna, karena wahyu masih terus berjalan. Pada masa Nabi, fragmen-fragmen Al Qur’an lebih banyak dihafal ketimbang ditulis. Para sarjana Islam seperti Ibn Nadim dan Al Suyuthi menyebutkan antara 5  hingga 20 sahabat Nabi yang dikenal sebagai kolektor fragmen-fragmen Al Qur’an dalam bentuk hafalan.[8]
Maka berkaitan dengan sejarah penulisan Al Qur’an dalam konteks metodologi studi Islam  adakalanya Nabi Muhammad meminta dan mendektekan kepada sahabat untuk menuliskan wahyu. seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab dan Zaid bin Sabit.[9] Sebagian sahabat menuliskan Qur'an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi; mereka menuliskannya pada pelepah kurma , lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang.  Zaid bin Sabit mengatakan : " Kami menyusun Qur'an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang ". Adakalanya juga Para sahabat senantiasa menyodorkan Al Qur'an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.[10]

C.       Studi Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin
Setelah Rasullullah wafat, secara berturut-turut pemerintahan di pegang oleh Abu Bakar, Umar bin khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.[11] Pada Masa Abu bakar, Abu Bakar menjalankan pemerintahan Islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur'an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al Qur'an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qarri'. [12]
Disegi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempat-tempat lain akan membunuh banyak qari' pula sehingga Al Qur'an akan hilang dan musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut. Kemudian dipilihlah zaid bin Tsabit untuk membukukan Al Qur’an.
Zaid bin Tsabit tidak menganggap cukup menurut yang dihafal dalam hati dan yang ditulis dengan tangannya serta hasil pendengaran, tetapi ia bertitik-tolak pada penyelidikan yang mendalam dari dua sumber yaitu Sumber hafalan yang tersimpan dalam hati para sahabat dan Sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW.
Dua hal tersebut yaitu hafalan dan tulisan harus terpenuhi. Karena sangat bersungguh-sungguh dan berhati-hatinya ia tidak menerima data berupa tulisan sebelum disaksikan oleh dua orang yang adil bahwa tulisan tersebut ditulis di hadapan Rasulullah SAW.
Pada Masa khalifah Utsman bin affan studi penulisan Al Qur’an dilakukan karena Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur'an yang berbeda-beda dari suku-suku di arab saat itu. Di tambah laporan dari Hudzaifah bin Al yaman setelah berperang. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Al Quran. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Maka ia melaporkan kepada khalifah dan menceritakan apa yang di lihatnya.[13]
Khalifah Ustman kemudian memerintahkan kepada Abdullah bin Zubair, Said bin 'As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk memperbanyak serta memerintahkan apa yang diperselisihkan ketiganya dengan Zaid bin Tsabit itu di tulis dengan bahasa Quraisy, karena Al Qur’an turun dengan logat mereka.
Berbeda upaya-upaya kodifikasi pra Ustman, kodifikasi yang dilakukan Khalifah Ustman disepakati oleh hampir seluruh sarjana Al Qur’an, klasik maupun kontemporer, orientalis maupun sarjana muslim sendiri. Bukti paling kuat terhadap upaya ini adalah kenyataan bahwa hingga  hari ini, kaum muslimin mneyebut Al Qur’an mereka dengan sebutan Mushaf Ustmani artinya mushaf yang dikumpulkan oleh Ustman. Selain itu kita juga bisa menyaksikan manuskrip dari naskah asli mushaf ini dibeberapa museum topkapi di Turki dan museum Tashkent.[14]

D.       Studi Islam Pada Masa Dinasti Muawiyah
Dengan meninggalnya Khalifah Ali Bin Abu Thalib dari Khulafaur  Rasyidin, maka bentuk pemerintahan Islam yang dirintis Nabi Muhamad SAW berubah dari sistem demokrasi menjadi monarkhi (kerajaan) yaitu  Dinasti Bani Umayyah. Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah. Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan,  diploma dan tipu daya, tidak dengan pemilihan seperti pemerintahan Khulafaur  Rasyidin. Pada masa kekuasaannya, Muawiyah banyak melakukan ekspansi sehingga membuat Islam menjadi besar. Dari pertemuan dan persatuan berbagai bangsa, suku dan bahasa, menimbulkan kebudayaan dan peradaban Islam yang baru.[15]
Daulah Umayyah memegang tampuk kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak 30-132 H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua Eropa bahkan telah mencapai wilayah Byzantium.
Pada masa pemerintahan Mu’awiyah dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir 20 tahun.
Masa kejayaan Bani Umayyah dimulai ketika Abdul Malik bin Marwan memerintah 66-86 H Atau 685-705 M. Berbagai kemajuan dilakukan Abdul Malik , Ketika kekuasaan Islam berada di tangan kerajaan Bani Umayyah, seni bangunan, misalnya bangunan Qubatus Sarkah di Yerussalem dan bangunan Masjid Nabawiyah di Madinah dapat mencapai ketinggian melampaui batas seni bangun Gothik di Eropa. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan pun tidak ketinggalan. Misalnya, bidang–bidang kedokteran, filsafat, kimia, astronomi, dan ilmu ukur berkembang dengan sangat pesat.
Dinasti Umayah berlangsung selama 90 tahun lamanya dengan beberapa 19 khalifah. Dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, tentu saja sudah banyak yang dilakukan oleh dinasti Umayah dalam memajukan Islam, terutama di sektor pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti pada masa-masa khalifah sebelumnya, masa Bani Umayah, akal dan ilmu juga berjalan seperti pada masa itu, walaupun ada beberapa kemajuan yang berhasil dilakukan oleh dinasti Umayah, karena pada waktu telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa filsafat dan eksakta.
Pada Masa Umayyah, pusat penyebaran ilmu pengetahuan pada terdapat di masjid-masjid. Di masjid-masjid itulah terdapat kelompok belajar dengan masing-masing gurunya yang mengajar ilmu pengetahuan agama dan umum. Ilmu pengetahuan agama yang berkembang pada saat itu antara lain ialah ilmu qiraat, tafsir, hadis, fikih, nahwu, balaghah, dan lain-lain.
Ilmu tafsir pada masa itu belum mengalami perkembangan pesat sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah. Tafsir berkembang dari lisan ke lisan sampai akhirnya tertulis.
Ahli tafsir yang pertama pada masa itu ialah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat yang sekaligus juga paman Nabi SAW yang terkenal. Bersama muridnya, Mujahid, ia yang pertama kali menghimpun tafsir dalam sebuah suhuf.
Pada Masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra, sejarah penulisan hadist dimulai. Khalifah merasa khawatir akan merosot dan hilangnya ilmu karena meninggalnya para ulama’ maka ia mengutus kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, dan memerintahkan-nya untuk membukukan hadis Rasulullah seraya berkata; “Lihatlah, apa yang terjadi pada hadis Rasulullah saw atau sunnah, atau hadis dari ‘Amrah, maka tulislah karena aku khawatirkan merosotnya ilmu dan hilangnya ulama.
Ibnu Hazm menjawab, “Pergilah kepada Ibnu Syihab, niscaya Engkau tidak akan menjumpai seorang pun yang lebih mengetahui sunnah dari pada dia.”
Peristiwa tersebut terjadi di penghujung abad pertama Hijriyah. Kemudian setelah az-Zuhri, di pertengahan abad kedua Hijriyah lahirlah tokoh-tokoh yang membukukan hadis nabi. ke dalam bab-bab tertentu seperti Ibnu Juraij, Hasyim, Imam Malik, Ma’mar, Ibnu al-Mubarak dan lain-lain. Dan setelah itu pengumpulan dan kodifikasi hadis berlanjut dengan metode penulisan yang bermacam-macam, seperti musnad, mushannaf, shahih, jami’ dan mustakhraj.[16]
Pada masa Dinasti Umayah, ilmu pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu :
1.              Bidang Diniyah
2.              Bidang Tarikh, dan
3.              Bidang Filsafat
Kota-kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan dinasti Umayah, antara lain kota Kairawan, Kordoba, Granada dan lain sebagainya.
Pada masa Umayah, ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu :[17]
1.    Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru) yang meliputi : Al-ulumul Islamiyah (ilmu al-Qur’an, Hadist, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-Tarikh dan al-Jughrafi), Al-Ulumul Dkhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam), yang meliputi : ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang disalin dari Persia dan Romawi .
2.    Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama) yaitu ilmu yang telah ada pasa zaman Jahiliyah dan ilmu di zaman khalifah yang empat, seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan amtsal. 
E.       Studi Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari bani Umayyah. Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al Rasyid (786-809 M) dan putranya Al Ma’mun (813-833M). Harun Al Rasyid adalah pelindung seni dan keilmuan . Dan di bawah putranya Al Ma’mun kebangkitan budaya dan keilmuan mencapai puncaknya. Ketika Al Ma’mun mendirikan Rumah kebijaksanaan (Baitul Hikmah) di Baghdad. Kegiatan utamanya adalah penerjemahan karya-karya filsafat dan ilmu pengetahuan asal Yunani yang sudah di impor sang khalifah dan sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran dan budaya Islam. Lembaga tersebut juga memiliki observatorium yang memungkinkan para cendekiawan muslim membuat tabel-tabel astronomi yang baru. Di bagian-bagian dunia Islam juga di bangun banyak rumah kebijaksanaan dan pengetahuan misalkan akademi yang didirikan di Kairo pada 1005 M oleh khalifah Al Hakim.[18]  Dimulai pada masa Al Ma’mun dan berlanjut pada masa penerusnya, aktifitas intelektual berpusat di Akademi yang baru didirikan itu. Era penerjemahan oleh dinasti Abbasiyah berlangsung selama seabad yang dimulai pada tahun  750 M. Karena kebanyakan penerjemah adalah orang yang berbahasa Aramaik (Suriah), maka berbagai karya Yunani pertama kali diterjemahkan ke bahasa Aramaik sebelum akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Ketika berbentur dengan kalimat-kalimat yang sulit dipahami dalam bahasa aslinya, terjemahnya dilakukan kata demi kata dan ketika tidak dijumpai atau dikenal padanannya dalam bahasa arab, istilah-istilah Yunani itu diterjemahkan secara sederhana dengan beberapa adaptasi.[19] Salah satu penerjemah pertama dari bahasa Yunani adalah Abu Yahya Ibn Al Bathrik yang dikenal karena menterjemahkan karya-karya Galen dan Hippokrates. Selain Abu Yahya, nama penerjemah yang cukup poluler adalah Hunain Ibn Ishaq Al Ibadi. Kemampuan Hunain sebagai penerjemah bisa dibuktikan dari laporan yang menyebutkan bahwa ketika sedang bekerja ia dan penerjemah lain menerima sekitar 500 dinar perbulan. Dan bahwa Al Ma’mun membayarnya dengan emas seberat buku yang ia terjemahkan. Hunain di nilai oleh Ibn Al Ibri dan Al Qifthi sebagai ”Sumber Ilmu pengetahuan dan tambang kebajikan” dan oleh leclerc sebagai ”tokoh terbesar abad ke-9” dan bahkan sebagai salah seorang yang paling cerdas yang pernah dikenal dalam sejarah.[20]
 Sejarawan dan Profesor studi Islam,Philip K Hitti, yakin bahwa Keagungan Zaman Al Ma’un adalah berkat dorongan yang diberikan khalifah pad kegiatan intelektual dan pendidikan, ”Mengembangkan zamannya” menjadi salah satu yang paling paling bersejarah dalam Islam. Orang arab abad sembilan bukanlah sekedar penerjemah dan penyebar, mereka adalah gudang Ilmu pengetahuan, mereka memiliki banyak pintu keluar seperti halnya pintu masuknya.[21] Pada Masa ini Kekayaan negara banyak dimanfaatkan untuk keperluan sosial dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan, kedokteran dan Farmasi. Kesejahteraan, sosial, kesehatan pendidikan dan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesusteraan berada pada zaman keemasannya.[22]
Pada masa Daulah Abbasiyyah kehidupan peradaban Islam sangat maju, sehingga pada masa itu dikatakan sebagai jaman keemasan Islam, karena kaum muslim sudah sampai pada puncak kemuliaan, baik kekayaan, bidang kekuasaan, politik, ekonomi dan keuangan lebih lagi dalam bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Aktifitas keilmuan yang bisa dikatakan sebagai embrio gerakan Intelektual Islam adalah penulisan sejarah. Kajian sejarah tumbuh pada masa ini, dimulai dari kajian hadist. Dengan demikian ia merupakan salah satu disiplin ilmu paling awal yang dihasilkan oleh muslim Arab.[23]  Berbagai ilmu telah lahir pada periode Dinasti ini. Hal ini dikarenakan antara lain: Penerjemahan buku berbahasa asing seperti halnya Yunani, Mesir, Persia, India dan lain-lain kedalam bahasa Arab dengan sangat gencar dan penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh kaum muslimin itu sendiri.
Buku-buku yang diterjemahkan antara lain : Ilmu kedokteran, Kimia, Ilmu Alam, Mantiq (logika), Filsaft Al Jabar, Ilmu Falaq, Matematika, Seni dan lain-lain. Dengan begitu kaum muslimin dapat mempelajari berbagai ilmu dalam bahasa Arab. Dan hasilya bermunculan sarjana-sarjana besar muslim dari berbagai disiplin ilmu yang sangat terkenal juga ulama-ulama besar yang sangat tersohor seperti halnya iman Abu Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Bukhori dan imam muslim dan lain-lain.
Pengaruh gerakan terjemahan tersebut, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia. Para khalifah dan pembesar lainnya membuka peluang seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, Para khalifah sendiri pada umumnya adalah ulama-ulama yang mencintai ilmu, menghormati para sarjana dan memuliakan para pujangga. Mereka benar-benar menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mereka mempraktekkan syariat islam : bahwa tinggi rendahnya derajat dan martabat seseorang tergantung pada banyak sedikitnya pengetahuan yang ia miliki disamping ketakwaannya pada Allah.
Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal namaMuhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata aljabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.[24]
Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
1.     Maktab atau Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
2.     Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.[25]
Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan
Meskipun kedua dinasti ini memegang kekuasaan yang absolut, masa pemerintahan dinasti Umayyah dan Abasiyah tersebut menghadirkan apa yang di sebut oleh cendekiawan sebagai masa klasik dalam sejarah Islam. Pada masa inilah, umat muslim dan yang lain menerjemahkan karya-karya pengetahuan yang mereka bisa dapatkan (dari Yunani, India, Cina) ke dalam bahasa Arab dan menyerap serta mengembangkan gagasan mereka. Periode tahun 800 – 1200 M adalah masa meledaknya pengaruh intelektual Islam.[26]
F.        Studi Islam Pada Masa Dinasti Fatimiyah
Meskipun masa keemasan dalam sejarah fatimiyyah di Mesir di mulai periode Al Mu’izz dan memuncak pada masa Al Aziz, pada periode kekuasaan Al Muntashir, Mesir masih di akui sebagai Negara Islam yang paling Maju. [27]Hal ini dapat di lihat dari pendirian Universitas yang di bangun oleh seorang pelopor pendidikan yang bernama Ibn Killis. Ia mendirikan Universitas dan menghabiskan ribuan dinar perbulan untuk membiayainya. Sebelum itu, dibawah pemerintahan Iksidiyyah, muncul seorang sejarawan Muhamad Ibn Al Kindi dan Ibn Salamah Al Qudhai.
Setelah Mesir di kuasai selama empat tahun (969 -973 M), Dinasti Fatimiyyah telah mengalami masa kejayaan yang ditandai dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke Kairo tahun 973 M. Zaman kejayaan ini di tandai dengan salah satunya di bidang Ilmu pengetahuan. Para pejabat dan pemerintah sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti adanya minat masyarakat yang selalu membanjiri pusat ilmu pengetahuan sehingga membuat hati senang sang khalifah yang diwujudkan dengan member beasiswa bagi pelajar.[28] Lembaga pendidikan banyak di bangun antara lain Universitas Al Azhar dan Al hikmah sekaligus dilengkapi perpustakaan yang selevel dengan masjid kordofa di Spanyol.
Meskipun beberapa khalifah pertama Dinasti Fatimiyyah di kenal sebagai khalifah berbudaya, periode mereka bisa dibilang tidak melahirkan ilmuawan yang kondang dalam sains dan sastra. Seperti khalifah-khalifah lainnya di Baghdad dan Kordoba, Al Aziz sendiri adalah seorang penyair dan sangat menyenangi pendidikan. Dialah yang mengembangkan masjid Agung Al Azhar menjadi Universitas. [29]
III.     Penutup
Kemajuan Ilmu pengetahuan khususnya Islam sudah di mulai pada masa periode Makkah. Hal ini dibuktikan peristiwa masuk Islamnya Umar Bin khattab takkala mendengar bacaan Al Qur’an yang dibaca adiknya berupa tulisan Al Qur’an dalam lembaran-lembaran mushaf yang ditulis oleh para sahabat. Pada periode Madinah penulisan wahyu Al Qur’an pada Masa Nabi dilakukan dengan sistematis dengan cara menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi penulis wahyu.
Pada Masa Khulafaur Rasyidin kodifikasi dan penulisan Al Qur’an sudah sistematis di mulai dari Masa Khalifah Abu Bakar sampai khalifah Ustman Bin Affan.
Pada Masa dinasti Umayyah dan Abasiyah perkembangan Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan menghadirkan apa yang di sebut oleh cendekiawan sebagai masa klasik dalam sejarah Islam. Pada masa inilah, umat muslim dan yang lain menerjemahkan karya-karya pengetahuan yang mereka bisa dapatkan (dari Yunani, India, Cina) ke dalam bahasa Arab dan menyerap serta mengembangkan gagasan mereka. Periode tahun 800 – 1200 M adalah masa meledaknya pengaruh intelektual Islam. Pada periode kedua khalifah ini lahirlah tokoh-tokoh dan cendekiawan muslim yang disegani dalam berbagai bidang, baik bidang ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Pada era ini berkembang pula berbagai disiplin ilmu baik yang bercorak agama (Tafsir, Hadist, ulumul Qur’an, Ulumul Hadist dll) dan juga ilmu yang bercorak pengetahuan (ilmu sosial dan eksak). Pada era inilah Islam mencapai puncak keemasan dalam sejarah peradaban Islam. Wallahu a’lam










DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, (Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2006)

Al Buthi, Said Ramadhan, Sirah Nabawiyah, terj. (Jakarta : Robbani Press, 1995)

Al Atsari, Abu ihsan, Peristiwa-peristiwa penting menjelang keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, dalam majalah As Sunnah, edisi 07 tahun 2011

Arifin,Zaenal Dinasti Fatimiyyah di Mesir (study tentang perkembangan,kemajuan dan kemundurannya), dalam Jurnal lentera No 12 Volume 7 tahun, Juli 2008,

Al A'zami, M.M Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya,terj. Bandung: Al Kalam Publising, 2011

Ghazali, Abdul Muqsid dll, Metodologi studi Al Qur’an,  Jakarta : Gramedia, 2009

Hatta, Syamsudin, Ulumul Qur’an, terj kitab " Mabahits Fi Ulumil Qur'an" karya Syeikh
Manna'ul Qathan, Solo : Pesma Ar royyan, 2007
http://id.wikipedia.org

Nata, Abudin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali pers, 2009

Hitti, Philip K, History of Arabs, terj, Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, cet II, 2006

Nugroho, Anjar, Diklat Ajar Metodologi Studi Islam, Purwokerto, Fakultas Agama Islam UMP, 2007

Rauf,Imam Feisal Abdul, Seruan dari Azan dari puing WTC dakwah Islam di Jantung Amerika pasca 9/11,terj,Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007

Syalaby, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan islam, I, trj, Muchtar Yahya, (Jakarta: Pusataka al-Husna, 1983)


[1] Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, (Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2006) Hal 290
[2] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali pers, 2009 hal 357
[3] Abudin Nata, ibid hal 378
[5] Said Ramadhan Al Buthi, Sirah Nabawiyah, terj. (Jakarta : Robbani Press, 1995) hal
[6]M.M al A'zami, Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya,terj. Bandung: Al Kalam Publising, 2011, hal 71
[7] Kita bisa melihat kisah tentang masuknya Islamnya Umar bin Khattab bisa dijadikan contoh bahwa penulisan ayat-ayat Al Qur’an telah dimulai sejak awal
[8] Taufik Adnan Kamal dalam Abdul Muqsid Ghazali dll, Metodologi studi Al Qur’an,  Jakarta : Gramedia, 2009  hal 10
[9] M.M al A'zami, ibid hal 72
[10] Syamsudin Hatta, Ulumul Qur’an, terj kitab " Mabahits Fi Ulumil Qur'an" karya Syeikh Manna'ul Qathan, Solo : Pesma Ar royyan, 2007 hal  69
[11] Abudin Nata, ibid hal 318
[12] Syamsudin Hatta, ibid hal 70
[13] Syamsudin Hatta, Ibid  hal 72
[14] Abdul Moqsith ghazali dkk,  Ibid hal 13
[15] Anjar Nugroho, Diklat Ajar Metodologi Studi Islam, Purwokerto, Fakultas Agama Islam UMP, 2007 hal 65

[16] Amru Abdul Mun’im Salim, Taysir Ulum al-Hadits lil Mubtadi'in; Mudzakkirat Ushul al-Hadits lil Mubtadi'in, diterjemahkan menjadi Ilmu Hadits Untuk Pemula, 1997  Hal 17-18

[17] Ahmad  Syalaby, Sejarah dan Kebudayaan islam, I, trj, Muchtar Yahya, (Jakarta: Pusataka al-Husna, 1983), hlm. 33
[18] Imam Feisal Abdul Rauf, Seruan dari Azan dari puing WTC dakwah Islam di Jantung Amerika pasca 9/11,terj,Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007 Hal 228
[19] Philip K Hitti, History of Arabs, terj, Jakarta : PT Serambi Ilmu semesta, Cet II, 2006, hal 386-387
[20] L. Leclerc dalam Philip K Hitti, ibid hal 391
[21] Philip K Hitti dalam Imam Feisal Abdul Rauf, Ibid hal 229
[22] Abu ihsan Al Atsari, Peristiwa-peristiwa penting menjelang keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, dalam majalah As Sunnah, edisi 07 tahun 2011 hal 24
[23] Philip K Hitti, History of Arabs, terj, Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, cet II, 2006, hal 304
[24] http://id.wikipedia.org
[25] ibid
[26] Imam Feisal Abdul Rauf, Ibid hal 229
[27] Philip K Hitti, Ibid hal 800
[28] Juzi Zaidan dalam Zaenal Arifin,Dinasti Fatimiyyah di Mesir (study tentang perkembangan,kemajuan dan kemundurannya), dalam Jurnal lentera No 12 Volume 7 tahun, Juli 2008, hal 11  (http://isjd.pdii.lipi.go.id)
[29] Philip K Hitti, Ibid hal 801

Senin, 22 Oktober 2012

Kesuksesan Kepemimpinan Nabi Muhamad dan Kontekstualisasi Dalam Dunia Pendidikan


 I. Latar Belakang 

Dalam sejarah tidak ada orang sesempurna Nabi Muhammad. Kesempurnaan dalam kepemimpinannya merupakan bagian kesempurnaan Beliau yang begitu banyak. Kesuksesan, kesempurnaan, kemenangan dan keistimewahan langkahnya dan datangnya dukungan dari Alloh adalah bukti bahwa beliau benar-benar utusan Allah yang mendapat pembinaan dan perlindungan langsung dari Allah. Perjalanan sejarah kesuksesan Nabi menunjukkan usaha yang dilakukan berbanding lurus dengan hasil yang dicapai, sampai-sampai hal ini menjadi kaidah atau teori yang berkembang dan beredar di kalangan kaum muslimin dan diakui kebenarannya seperti : “man jadda wajada”(barang siapa bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan keinginan yang diimpikannya), “la tarum ‘ilman wa tatruka al-ta’ab” (janganlah kamu menginginkan ilmu, sedangkan kamu meninggalkan kecapekan) dan banyak lagi yang lainnya. Kaidah-kaidah di atas juga dapat digunakan sebagai alat analisis mengenai mengapa nabi Muhammad SAW dapat mencapai sukses besar dalam kepemimpinannya.
Tidak dapat diragukan lagi bahwa nabi Muhamad adalah seorang pemimpin yang sangat berhasil dalam segala bidang. Baik sosial, ekonomi, Pendidikan maupun politik. Kita bisa melihat sejarah hanya dalam rentang waktu tertentu 23 tahun yang terdiri 13 tahun pereode makkah dan 10 tahun pereode madinah beliau telah berhasil merubah masyarakat dari kekufuran menjadi masyarakat beriman, dari masyarakat musyrik menjadi bertauhid, dari kemaksiatan menjadi ketaatan. Dari massa yang sesingkat itu nabi muhamad telah berhasil merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madaniyah yang berperadaban tinggi dan mulia. Mengkaji perjalanan hidup Nabi Muhamad (Sirah Nabawiyah) adalah bagaikan mengarungi samudra yang luas dan tidak bertepi. Hikmah yang terpancar darinya sangat banyak seolah kita tidak sanggup untuk menghitungnya. 
Keteladanan dan kepemimpinan Beliau tentu kita dapat lihat dari berbagai aspek baik aspek bisnis, militer, pendidikan dan tentu masih banyak lagi. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Rasulullah saw berlangsung bukan tanpa hambatan. Ia menghadapi hambatan fisik maupun mental. Ia diejek, dicemooh, dihina dan disakiti. Pada malam berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, rumahnya dikepung oleh orang-orang beringas. Namun hambatan-hambatan itu tidak membuatnya putus asa dan gagal dalam melaksanakan tugas. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu menyelesaikan tugasnya membina satu masyarakat yang sebelumnya dikenal sangat bobrok, serakah, fatalistik, anarkhis dan terpecah belah menjadi satu masyarakat yang ideal, berkeadilan dan sejahtera dunia dan akhirat. Banyak para ahli sejarah dan ilmuwan yang menempatkan posisi Nabi masuk peringkat pertama manusia yang berpengaruh di dunia. Hal tersebut dikarenakan kesuksesan Nabi Muhamad dalam memimpin umat dan keteladanan pribadi Beliau yang sangat agung. Untuk itulah makalah ini di buat untuk menggali dan menelusuri kesuksesan Nabi Muhamad dalam kepemimpinan sehingga nantinya dapat dijadikan referensi bagi setiap pemimpin dan lebih khusus lagi adalah pemimpin lembaga pendidikan sehingga lembaga-lembaga pendidikan dapat di perhitungkan di kancah pendidikan modern seperti sekarang ini. 

II. KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM DAN KONTEKSTUALISASI DALAM PENDIDIKAN


 A. Kepemimpinan Dalam Islam
Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara. “Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.” Sedangkan dalam definisi Ralph M. Stogdill kepemimpinan adalah proses pelibatan kelompok, pengaruh kepribadian dan seni meminta kerelaan. Kepemimpinan juga adalah proses penggunaan pengaruh, pencapaian tujuan, interaksi, peran yang diperbedakan, dan perbedaan antar kelompok. Sedangkan tugas kepemimpinan adalah tugas tugas pengabdian. Dia dipanggil demi penyelesaian masalah demi tujuan dan cita-cita bersama. Tujuan dan cita-cita merupakan unsur yang pertama dan paling pokok dalam kepemimpinan Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut.
Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya. Imamah atau kepemimpinan Islam adalah konsep yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok. Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya ajaran Islam untuk menjamin kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya. Dalam pandangannya, menurut Hadari Nawawi konsep kepemimpinan dalam Islam adalah sebuah keniscayaan. Menurutnya kepemimpinan dari sudut agama Islam merupakan secara sederhana oleh setiap pemimpin harus dijalankan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menyeru orang lain di lingkungan masing-masing menjadi manusia beriman. 
Kepemimpinan dalam Islam adalah salah satu sub system dalam system Islam yang mencakup pengetahuan seluruh Aspek kehidupan secara principal. Islam mengatur niat, amal, tujuan sekaligus sumber kehidupan. Dalam Islam seorang pemimpin dan yang di pimpin harus mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran yang dilaksanakan melalui prinsip kepemimpinan, yaitu melaksanakan melaksanakan kewajiban pemimpin dengan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dan melaksanakan hak berpartisipasi bagi yang dipimpin. Kepemimpinan sebenarnya bukan sesuatu yang mesti menyenangkan, tetapi merupakan tanggungjawab sekaligus amanah yang amat berat yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanah (yang diembankannya) dan janji mereka, dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus, mereka akan kekal di dalamnya” (QS.Al Mukminun 8-9) Seorang pemimpin harus bersifat amanah, sebab ia akan diserahi tanggungjawab. Jika pemimpin tidak mempunyai sifat amanah, tentu yang terjadi adalah penyalahgunaan jabatan dan wewenang untuk hal-hal yang tidak baik. Itulah mengapa nabi Muhammad SAW juga mengingatkan agar menjaga amanah kepemimpinan, sebab hal itu akan dipertanggungjawabkan, baik didunia maupun diakhirat. Nabi bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhori). Nabi Muhammad Saw juga bersabda: “Apabila amanah disia-siakan maka tunggulah saat kehancuran. Waktu itu ada seorang shahabat bertanya: apa indikasi menyia-nyiakan amanah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhori) Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah : a. Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya; b. Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi; c. Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya; d. Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Prinsip kepemimpinan dalam islam merupakan pelaksanaan tanggung jawab pemimpin dan yang dipimpin kepada Alloh serta kepada masyarakatnya. Pelaksanaan tanggung jawab itu dalam rangka menunaikan ibadah kepada Alloh. Dalam islam seorang pmimpin hendaknya : 1. Seorang Muslim 2. Mempunyai yang mempunyai tanggung jawab dan memiliki sifat: a. Mempunyai pengetahuan strategis dan tehnis b. Mempunyai kesanggupan mengambil keputusan c. Memandang tugas sebagai kewajiban yang harus di pertanggung jawabkan kepada Alloh. 3. Seorang yang di dukung oleh pemilihan yang dilakukan secara demokrasi dan diterima oleh lingkungan social. Uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa, kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta ada usaha kerja sama sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

B. Kunci sukses Kepemimpinan Nabi

Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin maka sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutif Nanang Fattah, sebagai berikut : 1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan. 2. Harapan dan perilaku atasan. 3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan. 4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin. 5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan. 6. Harapan dan perilaku rekan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi. Menurut Abdul Haris, kesuksesan Nabi Muhamad dalam memimpin di dasari oleh Sifat-sifat yang mendasari kepemimpinannya, sehingga beliau memperoleh sukses besar terkenal dengan istilah “mabadi’ khaira ummat” (prinsip-prinsip yang dapat menjadikan kita sebagai umat terbaik) yang isinya adalah : 1. Al- Shidqu. Sebagai salah satu sifat Rasulullah, al-Shidqu, berarti jujur, benar, keterbukaan, tidak berbohong; satunya hati, kata dan perbuatan. Setiap kaum muslimin, mula-mula dituntut jujur kepada diri sendiri, kemudian kepada orang lain. Dalam mua’amalah atau berinteraksi dengan orang lain, kita harus memegangi sifat al-Shidqu ini sehingga kawan kerjanya tidak kawatir tertipu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saat menjalankan bisnis Khadijah. Dari sikap itu beliau memperoleh sukses besar. 2. Al-Amanah wa al-Wafa’ bi al-‘Ahdi. Sifat ini secara sederhana dapat diterjemahkan dengan“dapat dipercaya, memegang tanggungjawab dan memenuhi janji”. Amanah juga satu dari sifat Rasul. Sifat ini merupakan hal penting bagi kehidupan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Sebelum diangkat sebagai Rasul, Nabi Muhammad mendapat gelar al-Amin dari masyarakat karena diakui sebagai orang yang dapat diserahi tanggungjawab. 3. Al-‘Adalah. Berarti bersikap adil, proporsional, obyektif dan mengutamakan kebenaran. Setiap kaum muslimin harus memegangi kebenaran obyektif dalam pergaulan untuk mengembangkan kehidupan. Orang yang bersikap adil meski kepada diri sendiri akan dipandang orang lain sebagai tempat berlindung dan tidak menjadi ancaman. Sikap adil juga merupkan ciri utama bagi seorang muslim sejati dalam kehidupan bermasyarakat. 4. Al-Ta’awun. Al-Ta’awun artinya tolong menolong, atau saling menolong antar sesama dalam kehidupan. Dalam agama Islam, tolong-menolong merupakan prinsip bermuamalah dalam arti luas. Karena itu dalam jual-beli misalnya, kedua belah pihak harus mendapat keuntungan, tidak boleh ada satu pihak yang dirugikan. Sebab prinsip ta’awun dalam konteks ini adalah : pembeli menginginkan barang, sedangkan penjual menginginkan uang. Kesuksesan Nabi Muhamad dalam memimpin karena Beliau juga memiliki sifat Al- Istiqomah. Istiqomah adalah sikap mantap, tegak, konsisten, tidak goyah oleh godaan yang menyebabkan menyimpang dari aturan hukum dan perundangan. 
Di dalam al-Qur’an dijanjikan kepada orang yang beriman dan istiqomah, akan memperoleh kecerahan hidup, terhindar dari ketakutan dan kesusahan, dan ujungnya mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan menurut Heri Muhamad Nabi Muhamad sejak kecil telah memiliki kepribadian yang mulia. Tidak ada manusia yang akhlaknya ucapannya, perbuatan maupun gerakan fisiknya sesempurna Nabi. Beliau adalah uswatun khasanah seorang teladan sejati mulai masa kanak-kanak sampai akhir hayat. Tidak ada sedikitpun noda hitam dalam kehidupan Beliau, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakat. Sejak muda Nabi Muhamad sudah di kenal oleh masyarakat sebagai “Al Amin” orang yang sangat dipercaya. Sifat Amanah ditambah sidiq, Tablig, fatonah, istiqomah, sabar, pemaaf dan sifat mulia lainnya menjadi modal besar bagi Beliau dalam memimpin umat. Alloh sendiri memuji Nabi sebagai seseorang yang memiliki Akhlak yang mulia sebagai surat Al Qolam ayat 4 yang artinya “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Luar biasa, Predikat dan pujian ini langsung datang dari Allah Swt, karena akhlak beliau yang mulia. Maka tidak heran bila dalam waktu yang relatif singkat, beliau berhasil berdakwah dan menegakkan syariat Islam di muka bumi ini, dengan membawa peradaban Islam yang mulia dan terhormat menggantikan peradaban jahiliah yang hina dan zalim.
Inilah rahasia kesuksesan dakwah Rasulullah saw yaitu akhlak mulia Akhlak Nabi yang terpuji tanpa cela. Muhammad saw. sejak muda sebelum diangkat menjadi rasul terkenal lemah lembut, namun penuh daya vitalitas, berakhlak mulia, jujur, dan tidak mementingkan diri sendiri atau sukunya. Sewaktu bergaul dengan masyarakatnya beliau menonjolkan kejujuran yang tidak ada bandingannya sehingga masyarakat Qurays memberi gelar Al Amin kepadanya . Karena kejujurannya pula, ia mendapat kepercayaan dari Khadijah yang kemudian menjadi istri dan pendukungnya untuk membawa dagangannya ke Syria. Karena terkenal jujur dan keyakinan tidak akan berpihak, maka masyarakat mempercayakan kepadanya untuk memutuskan siapa yang akan meletakkan hajar aswad pada tempatnya setelah Kakbah selesai direnovasi Sedangkan menurut Yunahar Ilyas bebarapa kunci rahasia sukses Nabi Muhamad sehingga menjadikan Nabi Muhamad Sukses dalam memimpin. Kunci rahasia sukses tersebut yaitu : 1. Dalam memimpin Nabi selalu dibimbing oleh wahyu. Secara bertahap selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari Alloh menurunkan firman-Nya berupa ayat-ayat Al Qur’an yang berisi perintah, larangan, bimbingan, kisah, sejarah, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Jika ada pertanyaan maka turun ayat yang menjawabnya. Jika ada kejadian atau peristiwa, maka turun pula ayat yang meresponnya. 2. Dalam hal yang bersifat ijtihadiyah, tidak jarang Nabi bermusyawarah dengan para sahabat. Jika ada perbedaan pendapat Nabi menyelesaikan dengan sangat bijaksana. Semua pendapat dihormati oleh Nabi, sekalipun bukan pendapat tersebut yang diambil. Misalkan tentang tawanan perang badar terjadi perbedaan yang tajam antara sahabat Abu bakar dan Umar bin khottob. Menurut abu bakar sebaiknya tawanan perang itu dibebaskan dengan meminta tebusan karena mereka adalah family dan saudara kita juga. Bagi yang tidak sanggup membayar dapat membayarnya dengan jasamengajarkan membaca dan menulis. Tetapi menurut Umar bin khattab, sebaiknya semua tawanan dibunuh karena mereka adalah musuh Alloh dan Rosul-Nya. Sebelum memutuskan mengambil pendapat Abu Bakar Nabi mengatakan bahwa kalau di ibaratkan dengan Malaikat, Abu bakar adalah Malaikat Mikail yang menebarkan rahmat. Kalau diibaratkan Nabi Abu bakar seperti Nabi Ibrahim yang pemaaf. Sedangkan Umar bin khattab adalah ibarat malaikat Jibril yang bertugas menurunkan Azab dan seperti Nabi Nuh yang meminta kepada Alloh jangan biarkan kaum kafir sedikitpun yang tersisa di permukaan bumi. Nabi tidak sedikitpun menggunakan politik belah bambu, satu di injak yang lain diangkat. Jika seorang pemimpin tidak mampu mengelola perbedaan dengan baik maka perpecahan pasti terjadi. 3. Sebagai seorang pemimpin Nabi selalu bersama-sama dengan umat dan merasakan apa yang mereka rasakan. Jika umat menderita, Beliau lebih merasa menderita. Nabi sangat ingin umatnya sejahtera dan bahagia. Beliau pengasih dan penyanyang kepada umat-Nya. Kepemimpinan Muhamad adalah kepemimpinan Insani dan Robbani. Dalam konteks Insani Nabi sering bergaul serta menyantuni para sahabat. Dalam pergaulan Beliau juga mendidik, member contoh yang baik, mendengarkan orang lain, mencari penyelesaian masalah serta bersama-sama mengahayati prinsip yang telah di tetapkan oleh Alloh. 4.
Dalam memimpin Nabi tidak hanya mengarahkan dan membimbing dari balik meja, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Baik dengan bimbingan wahyu, berijtihad maupun musyawarah dengan para sahabat. Nabi mengatur strategi dan taktik perjuangan baik dalam peperangan maupun dalam perdamaian. 5. Sebagai pemimpin kata-kata Nabi sangat didengarkan karena beliau adalah seorang yang konsisten. Tidak ada beda antara kata dan perbuatannya. Sebelum mengajarkan sesuatu, maka Nabi melakukannya terlebih dahulu. Adakalanya Nabi tidak bicara dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan dan keteladanan. Nabi disiplin dan konsisten dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Contoh takkala Usamah bin Zaid diutus oleh beberapa orang Quraisy untuk meminta keringanan hukuman bagi seorang wanita Qurais yang terbukti mencuri dan harus di potong tangannya. Tetapi dengan tegas Nabi menolaknya. Bahkan Beliau menegaskan andaikan Fatimah binti Muhamad yang mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya. Sedangkan menurut Danial Zainal Abidin, sebagai seorang pemimpin Nabi Muhamad lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Sebagai contoh sewaktu terjadi perang Badar, Nabi menerima usulan sahabat yang mengusulkan agar tentara-tentara Islam berkemah dekat kawasan yang berdekatan dengan sumber air. Sewaktu terjadi perang Uhud didalam kota Madinah. Sebaiknya beliau menerima pandangan dari para sahabat untuk berperang di luar kota. Sewaktu perang khandak beliau juga menerima ususlan dari Salman Al Farisi untuk membuat parit mengelilingi kota Madinah. Kepercayaan seperti ini pasti dapat meningklatkan semangat dan keyakinan siapapun Demikianlah sebagian dari rahasia sukses kepemimpinan Nabi dan tentu masih banyak sifat-sifat Mulia Nabi yang lainnya. 

C. Kontekstualisasi Kepemimpinan dalam dunia Pendidikan 

Menurut Daud Rosyid untuk mencetak pemimpin harus dimulai dari pendidikan, sebab pendidikan adalah proses jangka panjang yang berlangsung lama dan bertahap. Sementara latihan kepemimpinan juga mengharuskan proses yang sejalan. Di samping itu pendidikan sudah sejak lama memainkan peran dalam membentuk generasi muslim yang dapat tampil. Semakin pesatnya ilmu pengetahuan dan Tehnologi serta tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan menuntut kepemimpinan yang efektif sebagaimana yang Nabi contohkan di atas. Tentunya bagi seorang pemimpin pendidikan adalah bagaimana ia mampu berperan aktif dan efektif dalam mendorong dan pelopor perubahan organisasi menuju yang bermutu melalu peningkatan kualitas diri seorang pemimpin.
Seorang pemimpin pendidikan apalagi Islam harus memiliki sifat-sifat kenabian yang meliputi sidiq, amanah, tablig, fatonah. Upaya memperbaiki mutu dalam suatu organisasi tentu sangat di tentukan oleh mutu kepemimpin dan managemen yang efektif. Untuk mendapatkan sukses seorang pemimpin lembaga pendidikan Islam juga harus memegangi sifat konsisten (Istiqomah), tahan godaan dan tidak tergiur untuk melakukan penyimpangan yang hanya menjanjikan kebahagiaan sesaat dan kesengsaraan jangka panjang. Konsisten berarti berpegang teguh pada prinsip-prinsip keyakinan dan merutinkan amaliyah sesuai keyakinan tersebut. Di samping itu seorang pemimpin pendidikan Islam juga harus memiliki sifat kepemimpin model Nabi (Profetik). Ia harus memiliki sifat Siddiq artinya kejujuran, sehingga ia dapat dipercaya oleh bawahannya atau yang dipimpimnya. Tabligh artinya penyampai,dalam hal kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi. Setiap pemimpin lembaga pendidikan Islam harus mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan yang dipimpinnya serta ia harus mampu bernegoisasi dengan bawahan aatau lembaga lain. Selain itu seorang pemimpin pendidikan harus memiliki sifat Amanah artinya dapat bertanggung jawab dalam menjalankan setiap tugasnya. Sekecil apapun amanah, maka pemimpin lembaga pendidikan Islam harus menunaikan tanggung jawab tersebut dan dapat mempertanggungjawabkan amanah tersebut. Demikian pula sifat Fathanah artinya mempunayi kecerdasan, maka setiap pemimpin lembaga pendidikan Islam harus mampu dalam membuat perencanaan pengembangan lembaga pendidikan. Ia harus merumuskan visi dan menerjemahkan dalam misi. Ia juga harus merumuskan strategi dan mengimplementasikannya. 
Peran kepemimpinan pendidikan Islam sangat penting sekali dalam mengejar mutu yang di inginkan pada setiap unit lembaga pendidikan. Sekolah hanya bisa maju apabila di pimpin oleh seorang Kepala Sekolah yang visioner, memiliki ketrampilan managerial, mempunyai integritas kepribadian dalam melaksanakan perbaikan mutu dan tentu di topang dengan sifat-sifat kenabian di atas. Dengan demikian lembaga pendidikan yang mempunyai semua komponen kepemimpinan dalam Islam dapat di pastikan lembaga tersebut akan mengalami kesuksesan sebagaimana Nabi Praktekkan dalam memimpin umatnya. Selain itu, kepemimpinan mestinya tidak dilihat sebagai fasilitas untuk menguasai, tetapi dimaknai sebagai sebuah pengorbanan dan amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. 
Kepemimpinan juga bukan kesewenang-wenangan untuk bertindak, tetapi kewenangan untuk melayani dan mengayomi dan berbuat dengan seadil-adilnya. kepemimpinan adalah sebuah keteladanan dan kepeloporan dalam bertindak. Kepemimpinan semacam ini akan muncul jika dilandasi dengan semangat amanah, keikhlasan dan nilai-nilai keadilan. Kepemimpinan sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi pada mutu (baik mutu pribadi maupun lembaga) akan mampu menggerakkan organisasi agar program dan tujuan yang di tetapkan bersama dapat tercapai. Demikian pula dengan gerakan mutu pada lembaga pendidikan harus di pegang oleh pemimpin yang bermutu pula. Menurut syarifudin untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang bermutu maka peranan kepemimpinan pendidikan yang efektif dengan berbagai sifat dan karakteristiknya yang dibutuhkan Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain sebagai mana yang di lakukan Nabi. 
Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpin yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Namun dalam perkembangannya, aplikasi kepemimpinan Islam saat ini terlihat semakin jauh dari harapan masyarakat. Para tokohnya terlihat dengan mudah kehilangan kendali atas terjadinya siklus konflik yang terus terjadi. Harapan masyarakat akan munculnya seorang pemimpin muslim yang mampu dan bisa diterima oleh semua lapisan dalam mewujudkan Negara yang terhormat, kuat dan sejahtera nampaknya masih harus melalui jalan yang panjang. 
Menelisik kepemimpinan Nabi yang menjadi suri tauladan sempurna bagi umat seluruh alam, jika di kaitkan dengan konteks kepemimpinan kekinian, yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, keberagaman manusia yang sumber salah dan lupa menjadikan faktor utama untuk ketidak sempurnaan semua tingkah laku. Namun tidak bisa kemudian hal ini menjadi justifikasi atas dekadensi dan kebobrokan moral pemimpin yang tidak amanah, tidak jujur dan tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya untuk menegakkan moral. Kepemimpinan seharusnya mengacu dan selalu mengarah kepada satu visi yang jelas, sehingga arahnya pun jelas. Dan keteladanan Nabil-ah yang harus di panuti oleh pemimpin-pemimpin dunia pendidikan Islam. Demikianlah, dengan besarnya beban yang di pikul para pemimpin lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian apabila seluruh sifat-sifat yang melekat pada Nabi dalam memimpin melekat pada setiap pemimpin lembaga pendidikan Islam, dapat di pastikan lembaga pendidikan tersebut dapat maju dan sukses dalam perkembangannya. Begitu pula sebaliknya, jika para pemimpin lembaga Pendidikan tidak mempunyai sifat-sifat kenabian (profetik) dapat dipastikan pula lembaga tersebut tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan bahkan tertinggal.

III. PENUTUP

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Dalam konteks Islam kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta ada usaha kerja sama sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Dalam hal ini seperti idealistik rasulullah, yaitu mengutamakan musyawarah dan pendekatan akhlaqi, yaitu mengaggap staf sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan. Dalam kehidupannya Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang sangat sukses dalam semua bidang, baik bidang politik, sosial, ekonomi, pendidikan dan masih banyak lagi. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh karena beliau mendapatkan dukungan langsung dari Allah SWT, akan tetapi juga karena sifat-sifat yang beliau miliki menunjang dan menentukan kesuksesan perjuangan yang dilakukannya. Ini penting untuk ditegaskan karena pada akhirnya akan menjadi “rumus” dan “pegangan” bagi kita sebagai manusia untuk menegaskan bahwa siapapun yang menjadi pemimpin ketika sifat-sifat yang mendasari kepemimpinannya, meniru dan menerapkan sifat-sifat kepemimpinan Nabi Muhammad adalah jalan terbaik bagi siapapun para pemimpin lembaga pendidikan untuk meraih kesuksesan dalam kepemimpinan Pendidikan. Usaha meningkatkan mutu pendidikan Islam memerlukan kemampuan dan kehandalan pemimpinnya sehingga terpenuhi kepemimpinan yang kuat. Model kepemimpinan Nabi mestinya dapat di jadikan tauladan dan contoh yang terbaik dalam kepemimpinan pendidikan Islam. Apabila model ini dapat di aplikasikan dalam sebuah lembaga pendidikan maka dapat di pastikan lembaga tersebut akan sukses dan menjadi maju karena di pimpin oleh pemimpin yang mempunyai sifat-sifat ke-Nabi-an (Profetik) 

DAFTAR PUSTAKA Al Mubarakfuri, Syaikh Syafiyyurrahman, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1997 
AM Mangunhardjana, Kepemimpinan, Jogjakarta : Kanisius, 1986 
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung : Rosdakarya, 1996 
Feisal, Jusuf Amir, Reorientasi Pendidikan, Jakarta : GIP,1995 
Hawa, Said, Ar Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, Jakarta, GIP, 2007 http://berkarya.um.ac.id/2011/05/01/pemimpinan-dan-kepemimpinan-menurut-islam http://www.nulumajang.or.id Disampaikan pada acara Dialog Pelajar/Remaja, oleh Remaja Masjid Agung “KH. Anas Machfudz” Lumajang pada tanggal 18 Februari 2012, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW) 
http://berkarya.um.ac.id/2011/05/01/pemimpinan-dan-kepemimpinan-menurut-islam/ Makalah Yunahar Ilyas, Kepemimpinan Rosululloh dalam www.dostoc.com
Muhamad, Heri, 44 Keteladanan Kepemimpinan Muhamad, Jakarta : GIP, 2005 
Mushaf Al Qur’an Tarjamah, Jakarta: Al Huda Kelompok GIP, 2005
Modul/Materi ajar Kepemimpinan Dalam Islam UII Jogjakarta, 2005 
Rosyid, Daud, Islam Dalam Berbagai Dimensi, Jakarta : GIP, 1998 
Siddiqi, Nourouzzaman, Jeram-Jeram Peradaban Muslim, Jakarta: Gramedia, 1996
Syarifudin, Managemen Mutu terpadu dalam pendidikan, Jakarta : Grasindo, 2002 
Syafii, Antonio, Kepemimpinan Sosial dan Politik, Jakarta ; Tazkia Publising, 2011 
Team Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung ; PT Imperial Bakti Utama, 2007
Zaenal Abidin, Danial, 7 Formula Individu Cemerlang, Jakarta: PT Hikmah Mizan Publika, 2007 
Zubaidi, M. Lilik, kepemimpinan Perspektif Islam Dalam Aktifitas Dakwah (Telaah Pemikiran Prof Dr Hadari Nawawi), http://digilib.uin-suka.ac.id, 2008