Senin, 11 Agustus 2008

pendidikan sebagai proses

Pendidikan sebagai Proses Transformasi





Pendidikan adalah fondasi pertama bagi tegaknya agama. Karena itu kalam awal yang dihunjamkan ke dalam dada Muhammad, nabi yang utama, adalah pembacaan (iqraâ) secara bebas tak terbatas bukan semata terhadap objek yang tertulis (written text) bahkan juga objek yang terhampar (reality) di alam semesta ini yang meliputi makhluk manusia dan non-manusia. Yang pertama membutuhkan instrumen nalar dan intuisi yang prosesnya biasa disebut sebagai tadabbur, sedangkan yang terakhir memerlukan nalar dan indera yang prosesnya sering dinamakan tafakkur

Tadabbur dan tafakkur adalah penanda utama bagi kaum ulul albab, manusia paripurna yang menjadi tujuan dalam proses pendidikan. Melalui tiga instrumen penting itu, manusia bisa mempersepsi, memahami, memaknai, dan merumuskan asumsi-asumsi, hipotesis-hipotesis, hukum-hukum, dan teori-teori tentang semua yang ada di semesta raya ini baik yang dapat diraba maupun tidak dapat diraba.

Jadi, iqraâ merupakan manifesto ke-ummiy-an yang bekerja dalam dua level transformasi. Pertama, iqraâ beroperasi sebagai wahana transmisi dan transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Proses itu tercermin dalam aras perubahan radikal dari mitos ke nalar, dan dari taklid ke kritis. Iqraâ adalah manifestasi kemenangan nalar atas mitologi sebagaimana pernah terjadi di dunia Yunani jauh sebelum Islam lahir. Karena nalar memenangkan kompetisi vis a vis mitologi sebagai jawaban artifisial atas problem kehidupan manusia, maka ia menjadi pintu menuju kritisisme.


Nalar adalah pangkal manusia bertanya, mempersoalkan apa yang tampak biasa, menunda sementara waktu pengetahuan yang diterima (abstraksi), mengujinya secara seksama, dan menyusun sistema atas inferensi-inferensi dari proyek reasoning (penalaran) tentang sesuatu yang senyatanya ada. Karena itu, dengan sendirinya taklid merupakan antitesis dari nalar kritis yang selalu mengedepankan prasyarat (reserve) atas pengetahuan manusia.

Kedua, iqraâ bergerak dalam ranah transmisi dan transfer nilai (transfer of values). Ia bekerja untuk mengubah manusia dari situasi dan lingkungan buta (illiterate) ke keadaan “melekât(literate). Dari buta ke melek di sini mengandung pengertian yang luas yakni mencakup transformasi nilai-nilai personalitas, kultural, ekonomi, sosial, politik dan bahkan agama. Transformasi personalitas menekankan perubahan bukan semata pada level cara berpikir (mode of thought) yang sejatinya menjadi tugas transfer pengetahuan atau ilmu pengetahuan seperti sudah disebut pada bagian pertama. Lebih dari itu transformasi personalitas adalah perubahan cara bertindak (mode of action) yang mencakup sikap dan perilaku individu.


Transformasi Nilai

Egosentrisme merupakan simptom manusia modern yang nir-altruisme dan nir-solidaritas. Kecenderungan mementingkan kepentingan sendiri (selfishness, egosentrism) di atas kepentingan bersama (al-maslahah al-`ammah) terus mewarnai perjalanan bangsa-bangsa. Orang makin tidak peduli pada sesama, bahkan jika perlu “siapa makan apa dan siapa makan siapa” dilakukan untuk memenuhi hasrat-hasrat bendawi dan kesenangan hedonistik dan snobbish individu dengan mengorbankan orang lain.


“Siapa makan apa adalah cermin nafsu hidup untuk makan meski dengan cara yang tidak halal dan thayyib (dari segi substansi dan cara memperolehnya, serta ramah lingkungan dari segi dampaknya). Siapa makan siapa adalah wajah manusia berwatak rendah yang tidak kenal tepo seliro, apatisme terhadap lingkungan sosial. Karena itu, pendidikan harus hadir dan dimaknai sebagai pembentukan karakter (character building) manusia, aktualisasi kedirian yang penuh ihsan dan pengorbanan atas nama kehidupan manusia dan non-manusia.

Perubahan pada nilai-nilai kultural mengarah kepada upaya perumusan serta pembangunan kembali unsur-unsur ide sekaligus material yang menjadi fondasi dan konstruk dari kebudayaan yang mencerahkan. Budaya korup dan menyimpang adalah sasaran bidik dari pendidikan transformatif.

Pada level ekonomi, transformasi nilai ditujukan untuk menaklukkan sistem kehidupan yang zalim menuju terbentuknya sistem berkeadilan. Pendidikan merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai keadilan yang menjadi antitesis dari praktik-praktik perekonomian koruptif, manipulatif, dan hegemonik. Tugas ini berat mengingat bentuk-bentuk simptom ketidakadilan ekonomi kontemporer yang berwajah globalisasi neo-liberalisme telah melahirkan penindasan atas dua sumberdaya utama:Â sumberdaya alam dan lingkungan, serta sumberdaya manusia.

Bentuk-bentuk eksploitasi neo-liberalisme merentang dari perusakan atas lingkungan hidup, menguras habis sumberdaya alam bagi segelintir orang yang tergabung dalam perusahaan-perusahaan multi dan transnasional, sekaligus menjadikan manusia sebagai objek pemerasan. Pemerasan atas manusia oleh manusia “ utamanya terhadap kaum pekerja atau buruh – bisa berupa rezim kontrak kerja yang sepihak, dan pemutusan hubungan kerja sewenang-wenang. Dalam konteks globalisasi kapital, kaum buruh juga menjadi korban kebijaksanaan deteritorialisasi perusahaan dan perusahaan fleksibel.
Deteritorialisasi menyebabkan perusahaan dengan mudah memindahkan basis industrinya dari satu wilayah ke wilayah lain. Ancaman sewaktu-waktu pemindahan lokasi perusahaan ke wilayah-wilayah yang murah dari segi biaya buruh ini mengakibatkan pemutusan hubungan kerja secara massif. Sedangkan yang dimaksud perusahaan fleksibel adalah perusahaan yang memanfaatkan pasukan buruh atau pekerja cadangan untuk menciptakan situasi ketidakpastian terhadap buruh yang sedang bekerja. Buruh dibuat sedemikian rupa dalam situasi kecemasan kontrak kerja yang sewenang-wenang. Artinya, situasi ini dimanfaatkan perusahaan fleksibel untuk menekan daya tawar buruh terhadap perusahaan. Ketiga rezim itu ujung-ujungnya adalah melakukan pemerasan secara legal dan sistemik atas tenaga kerja manusia.

Hubungan Sosial BaruÂ

Dalam situasi semacam ini, pendidikan memikul beban dan tanggung jawab penyadaran kritis atas manusia guna melawan eksploitasi manusia atas manusia. Transformasi nilai pada level kehidupan sosial membawa manusia kepada upaya koreksi dan rekonstruksi atas tatanan sosial yang penuh perbudakan dan ketidakadilan dalam relasi gender. Perbudakan kuno sudah berakhir dengan legislasi perundang-undangan dan hukum-hukum yang anti-perbudakan. Namun demikian, perbudakan model kini lahir jauh lebih kotor dengan jaringan internasional yang kokoh. Jual-beli manusia (utamanya perempuan dan anak-anak) menjadi gejala yang kasat mata. Manusia menjadi komoditas yang dapat dipertukarkan, diperjual-belikan dan disewakan dengan imbalan keuntungan ekonomi yang besar. Bisnis underground economy semacam ini terus meluas dan melibatkan pelaku-pelaku yang luas pula.

Pada saat yang sama, ketidakadilan dalam relasi gender juga masih terus dirasakan. Kekerasan domestik akibat ketimpangan relasi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Perempuan bukan semata menderita karena menjadi komoditas yang dipertukarkan, bahkan juga menjadi korban kekerasan fisik, psikis, verbal, dan struktural dari rezim patriarkhal yang dominatif.

Pendidikan, dengan demikian, tidak semata perlu mengubah muatan dan metode pembelajaran yang dapat mengurangi bias, stereotip, prasangka, dan diskriminasi sosial. Lebih dari itu pendidikan juga harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk menata hubungan-hubungan sosial baru yang berkeadilan.

Perubahan nilai pada level politik menekankan pada penyadaran akan bahaya kekuasaan yang tiranik dan otoriter, sekaligus kritik atas tatanan politik yang timpang. Hegemoni kontemporer paling dominan tercermin pada globalisasi neo-liberalisme seperti dijelaskan di muka, disusul dengan hegemoni kekuasaan dan politik yang wujudnya adalah pemaksaan sistem demokrasi liberal pada semua sistem politik di dunia ini.

Hegemoni lainnya berwujud nafsu perang yang telah memusnahkan berjuta-bejuta jiwa, baik mereka yang mengatasnamakan jihadâ maupun crusadeâ, terorisme maupun kontra-terorisme atau war againts terrorism. Kesadaran akan perlunya politik bermoral menjadi kebutuhan mendesak di tengah-tengah hegemoni di atas sekaligus situasi kehidupan politik nasional yang carut-marut karena KKN dalam skala luas. Oleh karena itu, pendidikan politik-kewarganegaraan dan pendidikan anti-korupsi menjadi keharusan yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Agama, sebagai wilayah yang tidak kalah pentingnya, juga merupakan bidang garap pendidikan. Maksudnya, pendidikan bukan ditujukan untuk menciptakan agama baru, tapi lebih diarahkan untuk meninjau kembali modus keberagamaan orang-orang beriman, karena cara-cara beragama yang otoriter terus tumbuh. Mereka yang beriman sering terlibat secara aktif dalam proses demonisasiâ, yakni mempersetankan individu dan atau kelompok yang masih dalam satu atap iman, kalangan luar (outsiders) atau orang lain (others) yang dipandang berbeda baik dalam hal pikiran-pikiran keagaman (state of mind), maupun dalam sikap dan perilaku keberagamaan.

Dalam konteks semacam itu, pendidikan perlu mengarahkan manusia pada cara-cara beragama yang egaliter dan bersahaja, dan pendidikan harus mentransformasi cara pandang keagamaan dari otoriter ke kemanusiaan. Intinya, semua proses transformasi itu bertujuan untuk mencerabut manusia dari sistem jahiliyah (al-zhulumat) kepada sistem yang mencerahkan dan berkeadaban manusia (al-nur); dari kezaliman (al-zulm) menuju keadilan (al-`adl).[]

kontruktivisme

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

Pengenalan

Pengajaran dan pembelajaran matematik melibatkan kemahiran mengira yang melibatkan daya pemikiran dan kreativiti yang tinggi. Pembelajaran matematik memerlukan kefahaman sesuatu konsep dengan mantap dan menyeluruh. Perlaksanaan proses pengajaran dan pembelajaran matematik perlu mengambil kira keperluan dan tahap pencapaian para murid.

Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR) mempunyai matlamat memperkembangkan fungsi murid secara menyeluruh dan bersepadu bagi mewujudkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani.emosi dan jasmani supaya mereka dapat menjalani kehidupan dengan berkesan dan bertanggungjawab. Bagi mencapai matlamat ini, guru perlu memilih kaedah pengajaran dan pembelajaran dengan bijaksana supaya kaedah yang dipilih itu sesuai dengan murid-murid yang pelbagai kebolehan dan minat. Salah satu trend matematik yang perlu diamalkan ialah melalui pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme.

Pengertian Konstruktivisme


Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam minda pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari persekitarannya. Ini bermakna pembelajaran merupakan hasil daripada usaha pelajar itu sendiri dan bukan dipindahkan daripada guru kepada pelajar. Iaitu tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembalajaran yang lama , di mana guru hanya “menuang ilmu “ kepada murid tanpa murid itu sendiri berusaha dan menggunakan pengalaman atau pengetahuan sedia ada mereka .

Untuk membantu murid membina konsep atau pengetahuan baru, guru perlu mengambil kira struktur kognitif yang sedia ada pada mereka. Apabila maklumat baru telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebahagian daripada pegangan kuat mereka, barulah bentuk baru tentang sesuatu ilmu pengetahuan dapat dibina. Proses ini dinamakan Konstruktivisme.Beberapa ahli konstruktivisme berpendapat bahawa pembelajaran bermakna bermula dengan pengetahuan atau pengalaman sedia ada murid.

Rutherford dan Algren berpendapat bahawa murid mempunyai idea mereka sendiri tentang hampir semua perkara sama ada betul atau salah.Jika kefahaman

dan pandangan diabaikan dan tidak diatasi, kefahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam peperiksaan , mereka memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru.

John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme dengan mengatakan bahawa pendidik cekap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran.

Ciri-ciri Utama Pendekatan Konstruktivisme

Mengikut pandangan ahli konstruktivisme, setiap orang murid mempunyai peranan dalam menentukan apa yang dipelajari. Ini bermakna kepala pelajar bukanlah kosong. Penekanan diberi kepada murid supaya berpeluang untuk membentuk kemahiran dan pengetahuan iaitu dengan mengaitkan pengalaman lampau dengan kegunaan masa depan. Murid bukan sahaja diberi fakta sahaja tetapi penekanan diberi kepada proses berfikir dan kemahiran berkomunikasi.

Peranan Guru Dalam Kelas Konstruktivisme

Melalui pendekatan konstruktivisme, guru perlu mengubah peranannya dalam bilik darjah.. Guru akan berperanan sebagai penyelidik . Dengan cara ini, guru lebih memahami bagaimana murid membina konsep atau pengetahuan.

Ahli konstruktivisme menganggap peranan guru di dalam kelas adalah sebagai pengurus atau fasilitator untuk menangani masalah disiplin dengan sempurna. Murid diterima sebagai individu yang mempunyai ciri-ciri perlakuan yang berbeza dan perlu diberi perhatian. Mereka diberi peluang untuk membina keputusan sendiri.tentang perkara yang mereka pelajari. Melalui proses ini mereka lebih bertanggungjawab dan melibatkan diri dalam aktiviti pembelajaran. Sebaliknya mengikut ahli objektivisme berpendapat bahawa guru harus berperanan sebagai pengawal kelas. Murid tidak ada pilihan kecuali menurut peraturan dan undang-undang yang ditetapkan. Sekiranya ingkar mereka akan diberikan hukuman atau didenda oleh guru tersebut.

Prinsip-prinsip Pendekatan Konstruktivisme

Dalam pembelajaran secara konstruktivisme pengetahuan tidak diterima secara pasif tetapi dibina secara aktif oleh pelajar. Manakala fungsi pembelajaran adalah bersifat penyesuaian dan bertanggungjawab untuk mengorganisasi dunia pengalaman dan bukan untuk menemui dunia realiti.

Model Pengajaran Konstruktivisme

  1. Model Pengajaran Interaktif (Biddulph & Osborne)

 Guru lebih sensitif kepada idea dan persoalan pelajar.

 Guru menyediakan pengalaman penerokaan yang membolehkan pelajar menimbul persoalan dan mencadangkan penerangan yang munasabah.

 Guru menyediakan aktiviti yang memfokuskan kepada idea dan persoalan oleh pelajar.

 Guru menyediakan aktiviti yang menggalakkan pelajar membuat penyiasatan.

 Guru berinteraksi dengan pelajar untuk mencabar dan melanjutkan idea mereka.

  1. Pengajaran Model Berpusatkan Masalah (Wheatley)

 Guru memilih tugasan yang berkemungkinan menjadi masalah besar kepada pelajar.

 Pelajar membuat tugasan dalam kelompok kecil.

 Kelas akan berkumpul semula untuk membentangkan kepada kelas dan guru. Guru hanya berperanan sebagai fasilitator.

Cara-cara Pelajar Membina Konsep Matematik

 Pelajar membuat penyelesaian matematik dengan manipulatif.

 Pelajar berbincang keputusan penyiasatan mereka.

 Pelajar menulis hasil pengalaman mereka.

 Pelajar belajar cara penemuan mereka.

 Pelajar berfikir secara mencapah.

 Pelajar menyelesaikan masalah yang terbuka.

Keberkesanan Strategi Pengajaran Matematik Melalui Pendekatan

Kontruktivisme

 Pelajar berpeluang mengemukakan pandangan mereka terhadap sesuatu konsep.

 Pelajar dapat berkongsi persepsi /pandangan / idea antara satu sama lain.

 Pelajar dapat menerima serta menghormati semua pandangan daripada rakan-rakan mereka.

 Semua pandangan diterima dan tidak dipandang rendah.

 Pelajar dapat mengaplikasi idea baru dalam konteks yang berbeza untuk mengukuhkan kefahaman tersebut.

 Pelajar dapat merenung atau mengimbas kembali proses pembelajaran yang telah dilalui.

 Pelajar dapat menghubungkaitkan idea yang asal dengan idea yang baru dibinanya.

 Pelajar dapat mengemukakan hipotesis daripada aktiviti yang dilaluinya tetapi bukan guru yang menerangkan teori.

 Pelajar dapat berinteraksi dengan pelajar lain dan guru.

 Memupuk semangat kerjasama antara individu dan kumpulan melalui aktiviti koperatif.

 Pengajaran berpusatkan kepada pelajar.

 Guru akan dapat meningkatkan kemahiran berfikir di kalangan pelajarnya.

 Guru menjadi lebih prihatin terhadap keperluan , kebolehan serta minat pelajar.

 Guru hanya mengemukakan soalan yang boleh merangsangkan pelajar mencari jawapan.

Kesimpulan

Kesimpulannya pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang berasaskan konstruktivisme akan memberi peluang kepada guru untuk memilih kaedah pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dan murid dapat menentukan sendiri masa yang diperlukan untuk memperolehi sesuatu konsep atau pengetahuan. Di samping itu, guru dapat membuat penilaian kendiri dan menilai kefahamannya tentang sesuatu bidang pengetahuan dapat ditingkatkan lagi. Selain itu, beban guru sebagi pengajar akan berkurangan di mana guru lebih bertindak sebagai pemudahcara atau fasilitator.

RUJUKAN

Nik Azis Nik Pa (1992). Agenda Tindakan : Penghayatan Matematik KBSR KBSM. Kuala Lumpur : DBP

Nik Azis Nik Pa (1996). Perkembangan Profesional : Penghayatan Matematik KBSR KBSM Kuala Lumpur : DBP

Resnick, L.B & Ford, W.W. (1981) The Psychology of Mathematics For Instruction. Lawrence Erlbaum Associates: New Jersey.

Stones, E & Morris, S. (1972) “Teaching Practice”, Methren & Co. Ltd. London.

Md. Nor Bakar (1995). “ Masalah Pengkonsepan dalam Matematik”. Jurnal Pendidikan UTM.1(1) :

menjadi guru baik

“MENJADI GURU YANG BAIK ATAU TIDAK SAMA SEKALI”




Memasuki abad ke 21 kita menghadapi perubahan-perubahan besar dan amat fundamental dilingkungan global. Perubahan lingkungan strategis pada tataran global tersebut tercermin pada pembentukan forum-forum seperti GATT, WTO, dan APEC, NAFTA dan AFTA, IMG-GT, IMS-GT, BIMP-EAGA, dan SOSEKMALINDO yang merupakan usaha untuk menyongsong perdagangan bebas dimana pasti akan berlangsung tingkat persaingan yang amat ketat. Suatu perubahan regulasi yang semula monopoli (monopoly) menjadi persaingan bebas (free competition). Demikian pula, terjadi pada pasar yang pada awalnya berorientasi pada produk (product oriented) beralih pada orientasi pasar (market driven), serta dari proteksi (protection) berpindah menjadi pasar bebas (free market ).

Tantangan Guru di Era Global dan Otonomi Daerah

Kemajuan ekonomi diberbagai negara, sangat terkait dengan kualitas Sumber Daya Manusia. Contohnya Singapura dan Jepang. Walaupun sumber daya alam yang dimilikinya terbatas, tetapi karena kualitas sumber daya manusianya unggul, kedua negara tersebut menjadi pemimpin ekonomi di kawasan Asia . Untuk itu perlu mengantisipasi keadaan ini dengan memperkuat kemampuan bersaing diberbagai bidang dengan pengembangan Sumber Daya Manusia. Sayangnya SDM kita saat ini memprihatinkan, menurut UNDP. Indonesia menempati peringkat 109 dari 174, peringkat daya saing ke 46 yang paling bawah di kawasan Asia Tenggara, Singapura ke-2, Malaysia ke-27. Phillipina ke 32, dan Tailand ke 34, dan termasuk negara yang paling korup didunia.

Dalam upaya peningkatan SDM, peranan pendidikan cukup menonjol. Dari pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa dalam menuju perubahan struktural, dengan meningkatnya pembangunan ekonomi telah terjadi proporsi tenaga kerja di bawah pendidikan dasar yang semakin mengecil, sedangkan proporsi tengan kerja berpendidikan menengah dan tinggi semakin meningkat. Berbeda dengan negara lain yang mengalami tinggal landas, proporsi yang berpendidikan dasar dan menengah di Korea pada pertengahan tahun 70-an cukup besar yaitu 19 persen tidak berpendidikan, 43 persen berpendidikan dasar, 31 persen berpendidikan menengah dan 7 persen berpendidikan tinggi (Macharany, 1990). Selanjutnya, Yudo Swasono dan Boediono (Macharany, 1990) mengungkapkan bahwa struktur tenaga kerja Indonesia pada tahun 1985 adalah 53 persen tidak berpendidikan, 34 persen berpendidikan dasar, 11 persen berpendidiian menengah dan 2 persen berpendidikan tinggi. Bila kita ingin mencapai tinggal landas seperti Korea, diperkirakan struktur tenaga kerja menurut pendidikan dalam tiga skenario pertumbuhan GDP per kapita, yaitu rendah 6 persen, sedang 7 persen, dan tinggi 8 persen pada tahun 2019.

Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school based management) dimana sekolah diberikan kewenangan untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan; (2) Pendidikan yang berbasiskan pada partisipasi komunitas (community based education) di mana terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat, sekolah sebagai community learning center; dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. Selain itu pada pemerintah telah mengumumkan suatu gerakan nasional untuk peningkatan mutu pendidikan, sekaligus menghantar perluasan pendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya, dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat (Depdiknas, 2000).

Menjadi Guru Yang Profesional

Apa yang diharapkan dari seorang guru untuk menghadapi tantangan era global, era otonomi daerah dalam merealisasikan program pemerintah dalam bidang pendidikan?. jawabannya hanya sederhana : Menjadi guru yang baik, atau tidak sama sekaliân. Tidak ada diantara kita yang dipaksa menjadi guru yang ada hanya terpaksa menjadi guru dan secara sukarela menjadi guru. Apapun itu yang penting untuk menjadi guru maka tugas mulia ini mesti dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian. Guru yang baik diharapkan untuk menjadikan dirinya secara profesional, dan untuk mendapatkan guru yang profesional merupakan suatu keharusan.

Moh Uzer Usman (2000) mengemukakan tiga tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. (1) mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, (2) mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, (3) melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. DG Amstrong mengemukakan ada lima tugas dan tanggung jawab pengajar, yakni tanggung jawab dalam (1) pengajaran, (2) bimbingan belajar, (3) pengembangan kurikulum, (4) pengembangan profesinya, dan (5) pembinaan kerjasama dengan masyarakat.

Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab diatas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Glasser dalam Nana Sudjana (1988) mengemukakan empat jenis kompetensi tenaga pengajar, yakni (a) mempunyai pengetahuan belajar dan tingkah laku manusia, (b) menguasai bidang ilmu yang dibinanya, (c) memiliki sikap yang tepat tentang dirinya sendiri dan teman sejawat serta bidang ilmunya , (d) keterampilan mengajar.

Upaya Meningkatkan Citra Guru

Untuk meningkatkan mutu pendidikan secara formal aspek guru mempunyai peranan penting dalam mewujudkannya, disamping aspek lainnya seperti sarana/prasarana, kurikulum, siswa, manajemen, dan pengadaan buku. Guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya.

Berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan dalam prestasi belajar siswa (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%). Aspek yang berkaitan dengan guru adalah menyangkut citra/mutu guru dan kesejahteraan (Indra Djati Sidi, 2000)

Citra/mutu guru saat ini sering didengung-dengungkan dan dibicarakan orang baik yang pro dan kontra dan semakin lama citra guru semakin terpuruk. Masyarakat sering mengeluh dan menuding guru tidak mampu mengajar manakala putra-putrinya memperoleh nilai rendah, rangkingnya merosot, atau NEM-nya anjlok. Akhirnya sebagian orang tua mengikut sertakan putra/putrinya untuk kursus, privat atau bimbingan belajar. Pihak dunia kerja ikut memprotes guru karena kualitas lulusan yang diterimanya tidak sesuai keinginan dunia kerja. Belum lagi mengenai kenakalan dan dekadensi moral para pelajar yang belakangan semakin marak saja, hal ini sering dipersepsikan bahwa guru gagal dalam mendidik anak bangsa.

Rendahnya mutu guru menurut J. Sudarminta (2000) amtara lain tampak dari gejala-gejala berikut : (1) lemahnya penguasaan bahan yang diajarkan; (2) ketidaksesuaian antara bidang studi yang dipelajari guru dan yang dalam kenyataan lapangan yang diajarkan; (3) kurang efektifnya cara pengajaran; (4) kurangnya wibawa guru di hadapan murid; (4) lemahnya motivasi dan dedikasi untuk menjadi pendidik yang sungguh-sungguh; semakin banyak yang kebetulan menjadi guru dan tidak betul-betul menjadi guru; (6) kurangnya kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap dalam cukup banyak guru sehingga dari kepribadian mereka sebenarnya tidak siap sebagai pendidik; kebanyakan guru dalam hubungan dengan murid masih hanya berfungsi sebagai pengajar dan belum sebagai pendidik; (7) relatif rendahnya tingkat intelektual para mahasiswa calon guru yang masuk LPTK (Lembaga Pengadaan Tenaga Kependidikan) dibandingkan dengan yang masuk Universitas.

Sementara itu Nana Sudjana (2000) menjelaskan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru disebabkan oleh faktor berikut : (1) adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapapun dapat menjadi guru asalkan ia berpengetahuan; (2) kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru; (3) banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya itu. Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadinya, sehingga wibawa guru semakin merosot. Sedang Muhibbin Syah (2000) menyorot rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme guru. Penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran masih berada di bawah standar.Â

Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan mutu/citra guru salah satu komponen yang berperan adalah meningkatkan profesional guru yang bercirikan : menguasai tugas, peran dan kompetensinya, mempunyai komitmen yang tinggi terhadap profesinya, dan menganut paradigma belajar bukan saja di kelas tetapi juga bagi dirinya sendiri melakukan pendidikan berkelanjutan sepanjang masa.

Di dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat telah dikembangakan konsep Next Century School (NCS) sebagai berikut : (i) guru sebagai pelatih yang mendorong siswanya untuk mau meningkatkan prestasinya, guru tidak selalu lebih pintar dari siswa. Guru bersama-sama siswa berupaya keras untuk meningkatkan prestasi siswa. Mereka merupakan team work yang padu, (ii) Sebagai konselor, sebagai sahabat siswa yang menjadi tempat mendiskusikan berbagai masalah kehidupan, bersama-sama mencari solusi. Guru dapat menjadi teladan atau idola siswa; (iii) guru menjadi manajer belajar, artinya bersama-sama dengan siswa mencari pengaturan yang optimal untuk mengelola waktu belajar. Dengan singkat dapat disampaikan bahwa hubungan antara guru dengan siswa tidak dibatasi oleh ruang kelas, di pasar, dilapangan, di perpustakaan, di tempat rekreasi dan lain-lain. Hal inilah yang akan menciptakan suasana yang kondusif yang didasarkan hubungan harmonis antara guru dengan siswa (Indra Djati Sidi, 2000). Dengan demikian proses penuingkatan mutu guru ditekankan pada proses berkelanjutan melalui pemberdayaan diri sendiri.

Sejalan dengan kehidupan yang serba materialisme dan konsumerisme yang membudaya dikalangan kita maka berdampak pula terhadap citra guru. Guru yang penghasilannya pas-pasan membuat masyarakat kurang menghargai profesinya. Guru terpaksa harus mencari penghasilan tambahan seperti mengojek, menghonor di sekolah lain, memberi les/privat dan lain-lain yang menyebabkan guru kurang persiapan dalam mengajar dan mengajar apa adanya. Turunnya semangat guru tidak terlepas dari kesejahteraan saat ini. Misalnya kasus manipulasi NEM oleh oknum guru di beberapa daerah, hanyalah untuk mendapatkan imbalan yang tidak seberapa besarnya.

Penutup

Guru yang profesional tidak hanya tahu akan tugas, peranan dan kompetensinya namun juga dapat melaksanakan apa-apa yang menjadi tugas dan peranannya, dan selalu meningkatkan kompetensinya agar tercapai kondisi proses belajar mengajar yang efektif dan tercapai tujuan belajar secara optimal. Guru yang profesional selalu belajar dan belajar untuk mengembangkan profesinya.

Sebagai guru yang baik dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah maka seharusnya tidak usah berkeluh kesah, dan menurunkan semangat kerja. Sebagai orang-orang yang berpendidikan seharusnya guru dapat mengatasi persoalan ekonomi baik secara individual maupun secara kooperatif. Guru membekali dirinya dengan kemampuan untuk berwirausaha. Kita syah-syah saja mencari penghasilan tambahan, sebagaimana dokter yang penghasilannya lebih besar dari guru, masih ngobyek untuk menambahi penghasilannya, asal tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai pendidik. Guru tidak boleh mengorbankan pelajar karena sedang ada bisnis. Kewajiban utama tetap dikedepankan, baru sisa waktu (waktu luang) untuk kerja sambilan. Sebab jika guru terlalu berorientasi pada upaya penumpukan materi (kekayaan) dikhawatirkan akan melalaikan fungsi guru sebagai pendidik.

Kekhawatiran akan fungsi guru bukan lagi pendidik telah telah terbukti, akhir-akhir ini jumlah tenaga guru semakin sedikit, sebaliknya jumlah pengajar terus membengkak. Menurut Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutan pelantikan rektor Universitas Surabaya (Unesa) di Surabaya mengatakan : Indonesia saat ini minus tenaga guru, yang banyak adalah tenaga pengajar. Dia bekerja per jam, dan setiap jam minta bayaranâ. Guru, menurut Malik Fadjar, lebih dari sekedar pengajar. Guru merupakan pusat teladan dan panutan. Guru punya pengaruh terhadap siswanya (Republika, 2002). Jika demikian apakah ada jaminan jika kesejahteraan guru ditingkatkan maka mutu guru menjadi baik ?.

Secara sendiri-sendiri guru diharapkan mempunyai pola hidup sederhana dan menggali bakat dan kemampuan yang bisa digunakan membuka usaha kecil/ usaha sampingan seperti membuka warung di rumah, menulis buku, memberikan les/kursus, membuka reparasi elektronik, membuka wartel/warnet dan lain sebagainya. Secara bersama-sama guru dapat : (1) mengembangkan koperasi guru dan karyawan. Koperasi saat ini dan sampai kapanpun masih relevan membantu perekonomian masyarakat kecil termasuk guru; (2) mengembangkan unit produksi (unit usaha ) sekolah sebagaimana dikembangkan seperti kantin sekolah. Banyak usaha yang bisa digarap dan diusahakan dengan menggunakan fasilitas sekolah seoptimal mungkin. Asal dikelola dengan baik dan profesional, maka keuntungan unit produksi (unit usaha) sekolah akan membantu perekonomian guru; (3) meningkatkan peran masyarakat dan pemerintah kota/daerah dalam pembiayaan pendidikan baik melalui Komite Sekolah, alumni, dunia usaha dan pihak lain yang perduli dengan pendidikan dimana sebagian alokasi dana diperuntukkan bagi kesejahteraan guru. (mfy)

DAFTAR PUSTAKA

Conny R. Semiawan, Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, Balai Pustaka, 1988

Indra Djati Sidi, Pendidikan dan Peran Guru Dalam Era Globalisasi, dalam majalah Komunika No. 25/tahun VIII/2000

Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung , 2000

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Remaja Rosdakarya, Bandung

Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif, Sinar Baru Algesindo, Jakarta , 1988

Republika, Sabtu 4 Mei 2002, Mendiknas Melantik Rektor Unesa

Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta , 1994Â

Sudarminto J, Citra Guru, dalam Pendidikan Kegelisahan Sepanjang jaman, Sindunata (editor), Kanisius, 2001

Syaiful Bakri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Usaha Nasional, Jakarta , 1994 Teguh Budiharso, Komentar Mengenai Proyek Penelitian Perilaku Guru, Manuntung, 7/5/1997

www.ut.ac.id/jurnal pendidikan/htm.

www.depdiknas.go.id/informasi/htm

Rabu, 30 Juli 2008

ahlan wasahlan

SELAMAT DATANG KE DUNIA PENDIDIKAN AL IRSYAD PURWOKERTO

Syeh Rombangi SH,SHI


Ahlan wasahlan di dunia pendidikan al irsyad Purwokerto. Kami mengajak Anda berpartisipasi membangun masyarakat pembelajar (learning society), menyongsong datangnya era baru yang merobohkan batas-batas wilayah nasionalistas sehingga dunia terasa lebih kecil, namun wajah budaya, bahasa, dan agama terasa lebih beragam.

Memasuki pergaulan global, bangsa Indonesia sangat memerlukan tampilnya generasi baru yang memiliki kompetensi, integritas, dan visi ke depan yang jelas. Dan itu semua harus disiapkan secara sadar, cerdas, dan berencana oleh pihak Pemerintah maupun masyarakat, terutama oleh orang tua yang menginginkan putra-putrinya siap, dan bahkan penuh antusias menghadapi masa depan yang penuh perubahan, inovasi, dan kompetisi.
Di Al irsyad, setiap individu adalah istimewa dan layak memperoleh pelayanan dan penghargaan yang sama karena Tuhan telah menganugerahkan kita derajat dan hak-hak yang sama, sekalipun dengan potensi, minat, dan pertumbuhan pribadi yang berbeda-beda.
Pendidikan al irsyad berusaha memberikan fasilitas dan bimbingan bagi pertumbuhan intelegensi siswa secara utuh, sehingga ukuran keberhasilan anak didik tidak diukur secara seragam, melainkan sesuai dengan potensi dan minat masing-masing. Di al irsyad, pendidikan karakter sangat dipentingkan karena pendidikan life skill disamping special skill akan sangat diperlukan dalam kehidupan mendatang yang penuh perubahan yang masih sulit diprediksi.
Sekali lagi, Selamat Datang di Al Irsyad. Dengan senang hati kami akan melayani, mendengarkan, dan bekerja sama dengan Anda untuk memajukan pendidikan putra-putri Anda, meningkatkan kualitas dan martabat bangsa.

Wawasan Pendidikan Madania
Apa yang menjadi wawasan ataupun filsafat Pendidikan Al Irsyad sebagian sudah terkandung dalam kata “al irsyad” itu sendiri..

Wawasan Kesiswaan
Setiap siswa merupakan individu yang unik, tidak mungkin sama dan identik dengan yang lain. Oleh karena itu baik orang tua maupun guru hendaknya bisa menerima dan menghargai keunikan setiap siswa. Sebagai makhluk Alloh Yang Maha Suci, setiap pribadi siswa pada fitrahnya adalah suci, senantiasa ingin mengarahkan pertumbuhan dirinya untuk mengembangkan potensi dirinya dengan acuan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Tugas sekolah dan orang tua adalah memberikan fasilitas dan dorongan serta bimbingan serta bimbingan pada siswa didik untuk mengembangkan potensi dan minat yang menjadi pilihannya dalam lingkungan yang beradab, yang di dalamnya tumbuh kultur sekolah yang saling menghargai hak-hak dan bakat masing-masing siswa.

Wawasan Keindonesiaan
Adalah sebuah kenyataan sosial-historis yang pantas kita syukuri bahwa Indonesia merupakan bangsa dan negara yang sangat kaya dengan ragam budaya, flora dan fauna sebagai sebuah konsep dan cita-cita bersama tentang sebuah negara bangsa yang berkeadaban, Indonesia bukan merupakan warisan masa lalu yang sudah final, melainkan harus kita wujudkan bersama tanpa henti dari waktu ke waktu. Dengan demikian, keindonesiaan adalah sebuah konsep dan cita-cita mulia yang dinamis, yang memerlukan dukungan, partisipasi, dan bahkan pengorbanan dari semua warga bangsa, tanpa pandang suku, ras, budaya, dan agama. Cita-cita keindonesiaan ini senantiasa ditanamkan pada setiap siswa agar mereka memiliki semangat patriotisme.

Wawasan Internasional
Menyadari sepenuhnya bahwa pergaulan antar bangsa berlangsung semakin intens, di mana batas geografis dan budaya sudah bisa terhubungkan melalui teknologi moderen dan mobilitas penduduk bumi, maka kita – siap atau tidak siap – sesungguhnya sudah masuk dalam jaringan masyarakat global.
idikan Berbasis Masyarakat
Pada dasarnya pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua dan masyarakat, sedangkan negara lebih berperan sebagai fasilitator, bukan penentu, dalam mengembangkan rambu-rambu kurikulum, pengawasan dan menyusun kebijakan umum pendidikan yang menyangkut tugas dan wewenang negara dalam mengembangkan sumber daya warga negara. Dengan demikian peranan, keterlibatan dan partisipasi masyarakat, khususnya orang tua murid, sangat vital bagi upaya pengembangan Pendidikan Al irsyad. Sebagai “stake holders”, masyarakat pengguna jasa pendidikan, orang tua dan murid, serta lembaga-lembaga riset dan Perguruan Tinggi harus dilibatkan dan didengarkan aspirasinya karena tugas utama sekolah adalah membantu mengembangkan potensi dan minat siswa didik untuk membangun masa depan mereka, memasuki dunia yang jauh berbeda dari dunia generasi sebelumnya. Di al irsyad diusahakan agar tak ada tembok pembatas antara realitas kehidupan sosial dan pendidikan yang diterima di sekolah.

Membangun Masyarakat Pembelajar
Pendidikan al irsyad tidak hanya mengandalkan transfer pengetahuan antara guru dan murid yang berlangsung di ruang kelas melainkan – lebih dari itu – memiliki agenda untuk mebangun sebuah masyarakat pembelajar (learning society). Masing-masing pihak yang terlibat adalah berperan sebagai guru dan sekaligus juga sebagai murid karena setiap orang haruslah senantiasa belajar dari yang lain, dan juga berbagi kepada yang lain. Baik guru, orang tua, pengurus, masyarakat sekitar maupun murid kesemuanya dikondisikan untuk bisa saling belajar dan berbagi pengalaman hidup sehingga pada urutannya apa yang disebut masyarakat pembelajar merupakan kultur Sekolah al irsyad. Usaha ini dilakukan antara lain melalui serial workshop, pelatihan dan pertemuan informal dalam suasana akrab dan bermutu.

Active Learning dan Kurikulum Terpadu
Kurikulum Sekolah al irsyad tetap mengikuti rambu-rambu dan ketentuan yang digariskan oleh pihak Departemen Pendidikan Nasional, selain itu juga punya kurikulum khas al irsyad sendiri. namun dikembangkan dan diperkaya mengingat banyak kebutuhan siswa dan orang tua yang harus dipenuhi. Antara lain ialah pengembangan kepribadian, menyangkut aspek pengembangan “emotional intelligent” (EI), “spritual intelligent” (SI) dan intelegensi lain serta keterampilan menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris dan arab. Karena yang menjadi subyek utama dalam belajar adalah siswa, maka Pendidikan al irsyad menerapkan pendekatan “active learning” di mana para guru lebih berperan sebagai fasilitator dan stimulator, sedangkan yang lebih aktif adalah para siswa. Suasana belajar dikondisikan untuk selalu nyaman – fun and enjoyable – agar daya tangkap dan daya kreasi siswa selalu segar. Kurikulum terpadu diterapkan agar siswa dapat memiliki kecakapan untuk saling menghubungkan antara satu pelajaran dengan yang lain dan mampu mengkaitkan dengan pengalaman hidup sehari-hari karena sesungguhnya sifat ilmu itu saling berkait-kaitan. Dengan kurikulum terpadu pemanfaatan waktu juga lebih efisien untuk menyelesaikan beban kurikulum yang ada.

Ekstra Kurikuler dan Apresiasi Budaya
Pendidikan al irsyad selalu meningkatkan fasilitas dan perhatiannya untuk membantu para siswa mengembangkan minat dan potensi dirinya dalam bidang ekstra kurikuler, terutama yang berkaitan dengan seni, olah raga, dan apresiasi budaya. Kegiatan ini di samping sangat penting untuk pengembangan pribadi siswa juga berdampak positif bagi terciptanya iklim belajar yang kondusif karena akan menyelaraskan pertumbuhan intelegensi siswa secara seimbang dan merata. Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek IQ (intelectual quotient) tanpa diimbangi pengembangan intelegensi lainnya, terutama intelegensi yang berkaitan dengan seni, sosial, dan budaya pada urutannya akan mengantarkan siswa sebagai seorang spesialis, tetapi kurang mampu menjadi pemimpin masyarakat.

Berwawasan Lingkungan
Peduli terhadap lingkungan alam dan sosial adalah salah satu komitmen Pendidikan al irsyad. Oleh karena itu, siswa didik, guru, orang tua, dan pihak pengurus memilliki program kemasyarakatan untuk membantu dan berpartisipasi bagi terwujudnya lingkungan sosial yang sehat. Pihak sekolah memiliki agenda untuk ikut serta meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang ada di sekitarnya melalui program bersama berupa pelatihan guru dan manajemen sekolah. Lewat program kemasyarakatan ini juga dimaksudkan sebagai media pendidikan agar Sekolah al irsyad, terutama para siswanya, memiliki daya empati dan simpati terhadap kehidupan nyata terhadap masyarakat sekelilling.

Kualifikasi Guru dan Karyawan


Sebagai sebuah masyarakat pembelajar, maka semua pihak yang bergabung dalam Pendidikan al irsyad haruslah memiliki visi dan komitmen bersama untuk menciptakan kultur sekolah yang edukatif dan saling menghargai profesi masing-masing. Apapun jenis tugas dan pekerjaan yang diemban, baik guru maupun karyawan, haruslah memiliki kompetensi dan rasa tanggung jawab untuk mendukung keberhasilan para siswa. Mengingat proses pendidikan pasti melibatkan banyak pihak, maka hubungan kemitraan, interdependensi, dan proses sinergi diusahakan untuk selalu dijaga dan ditingkatkan. Semuanya adalah guru dan sekaligus murid karena pendidikan adalah agenda hidup yang tak pernah berakhir, sehingga masing-masing haruslah bersikap rendah hati untuk menghargai kelebihan dan perbedaan mitra kerja. Kita hendaknya bisa belajar dari pengalaman orang. Kelebihan dan kekurangannya, keberhasilan dan kegagalannya. Dengan demikian program dialog, pelatihan, dan refleksi bersama bagi guru dan karyawan merupakan salah satu agenda Pendidikan al irsyad. Kehadiran, partisipasi, dan saran nara sumber ahli dari luar untuk meningkatkan kualitas pendidikan Al Irsyad sangatlah dihargai.