Jumat, 23 Agustus 2013

Review Buku : “Sains Qur’ani : Produk Integrasi Sains dan Agama”

Review Buku
“Sains Qur’ani : Produk Integrasi Sains dan Agama”
 (Tinjauan atas Buku  Dr. Hartono, M.Si “Pendidikan Integratif”)
Oleh Abd. Qohin
A.  Identitas Buku
Judul                       : Pendidikan Integratif
Pengarang               : Dr. Hartono M.Si.
Penerbit                  : STAIN Press bekerjasama dengan Penerbit Litera Buku, Yogyakarta
Tahun Terbit           : Cetakan I tahun 2011
Kota Terbit             : Purwokerto
ISBN                      : 978-602-99074-0-7
Jumlah Halaman     : 256
B.  Sekilas tentang Penulis[1]
Dr. Hartono, M.Si. adalah staf pengajar tetap STAIN Purwokerto sejak tahun 2005 untuk mata kuliah Psikologi Belajar, Filsafat Pendidikan Islam, dan Filsafat Ilmu. Mulai tahun 2010 menjadi staf pengajar luar biasa di STKIP Islam Bumiayu. Dilahirkan di Lamongan, 1 Mei 1972, ia memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1997 dan gelar Magister Sains diperoleh dari program Studi Psikologi Perkembangan Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung tahun 2001-2004 serta gelar Doktor Ilmu pendidikan diraih dari Program Studi Pendidikan Nilai Universitas  Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tahun 2007-2010.
Meskipun ia kuliah di Kampus PTN, ia selalu menulis tugas akhir dengan tema ke-Islam-an. Dia menggunakan analisis filosofis Barat untuk membedah teologi Islam (skripsi), Psikologi sosial untuk membedah dinamika kepatuhan dan kemandirian saantri di Pesantren (tesis), dan menggunakan teori-filsafat pendidikan dan psikologi belajar untuk mengembangkan pendidikaan Islam (disertasi).
C.  Bahasan Buku dan Analisa
Buku Pendidikan integratif, karya Hartono ini merupakan modifikasi disertasi penulis yang berjudul “Pengembangan Model Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Integrasi Sains dan Agama di MA Unggulan Darul Ulum Jombang Jawa Timur”. Fokus bahasan buku ini, sebagaimana tercantum dalam katalog adalah pembelajaran sains dan agama yang dipadukan (integrasi), dengan ilustrasi gambar dalam sampul buku seorang perempuan bule yang sedang belajar sains, hasil sains modern dan seorang ibu yang mengajari dua orang putrinya membaca Al Qur’an.[2]
   Latar belakang penulisan buku ini didasari ungkapan kegelisahan penulis buku melihat dikotomi ilmu yang terus melanda pendidikan kita akibat pengaruh sekulerisasi sains barat. Hal itu juga amini oleh Mulyadi Kartanagara, bahwa gejala deislamisasi ilmu pengetahuan diakibatkaan oleh gerakan sekulerisasi di Barat. Para Saintis Barat tidak membawa-bawa agama ke dalam ilmu pengetahuan. Mereka memandang bahwa yang betul-betul ilmu pengetahuan hanyalah sains, sementara pengetahuan tentang Tuhan atau lebih luasnya lagi agama bukanlah berupa ilmu.[3]
Di samping itu, buku ini juga lahir juga dari kegelisahan penulis buku tentang tujuan pendidikan nasional dalam UU No.20 tahun 2003 yang sangat sempurna untuk bahasa manusia.[4] Mungkinkan hal itu dapat diwujudkan oleh pendidikan kita? Penulis buku agaknya sedikit ragu melihat potret pendidikan Indonesia yang sejak lama mengalami dikotomi ilmu dan khususnya Madrasah yang merupakan representasi pendidikan Islam di negeri ini mampu mewujudkan tujuan mulia tersebut. Keraguan itu sebenarnya cukup beralasan karena secara yuridis formal materi pembelajaran di sekolah tidak mencerminkan substansi UUD 1945 pasal 31 ayat 31, yaitu: “pemerintah memajukan ilmu pengetahuan  dan tehnologi yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama…”. Menurut Omar Bakar pengembangan sains dan tehnologi yang menjunjung tinggi nilai-nilai juga sejalan dengan tuntutan dan tantangan terbesar abad ke-21 yang dihadapi oleh umat Islam yaitu imperialisme ekonomi dari adidaya ekonomi dunia.[5] Di samping itu, tak kalah pentingnya problem pendidikan kita adalah pendidikan modern kita selama ini adalah  hasilnya sangat menekankan dan mengunggulkan kualitas intelektual atau kepandaian yang dilambangkan dengan IQ.[6]
Melihat gejala di atas penulis buku menyuguhkan solusi berupa perlunya pengembangan lembaga pendidikan yang dalam proses pembelajarannya yang memadukan sains dan tehnologi yang berbasis struktur muslim yang menjunjung nilai-nilai agama. Inilah yang ia sebut sebagai pembelajaran integratif. Pendidikan integrasi merupakan Pendidikan yang mengintegrasikan dan mengkaitkan satu mata pelajaran dengan pelajaran lain, bukan hanya dibatasan implikasi (seperti yang biasa dilakukan sekolah), tetapi di dalam relasi konsep, sehingga anak-anak dibangun dalam pemikiran yang konsisten antara satu konsep pelajaran dengan konsep lainnya. Integrasi kurikulum bukanlah metode baru untuk mengorganisir instruksi. Pendidikan pertama kali dieksplorasi dengan konsep mengintegrasikan kurikulum dilakukan pada tahun 1890. Selama bertahun-tahun, telah ada banyak peneliti pendidikan, misalnya, Susan Drake, Heidi Hayes Jacobs, James Beane dan Gordon Vars, yang telah menggambarkan berbagai penafsiran tentang integrasi kurikulum dengan mengacu pada kurikulum sebagai sesuatu yang terjalin, terhubung, tematik, interdisipliner, multidisiplin, berkorelasi, terkait dan holistik.[7] Sejalan dengan hal tersebut, Integrasi pembelajaran adalah menunjukkan kemampuan untuk menghubungkan informasi dari konteks yang berbeda dan perspektif. Ini termasuk kemampuan untuk menghubungkan domain ide dan filsafat ke dunia yang nyata, dari satu bidang studi atau disiplin yang lain, dari masa lalu sampai sekarang, dari satu bagian ke keseluruhan, dari abstrak ke konkret dan sebaliknya. [8]
Integrasi sains dan agama merupakan upaya untuk mengaitkan antara perspektif teoritik dan wahyu (kitab suci Al Qur’an atau hadits) atas fenomena tertentu (objek pengetahuan tertentu). Dalam konteks ini, penulis buku lebih condong dalam dalam mengambil objek kajian dalam konteks integrasi (memadukan) sains dan nilai agama. Menurut Feisal Yusuf Amir bahwa pendidikan integratif merupakan pendidikan pendidikan umum (Public School) yang berorientasi pada nilai, ajaran, dan prinsip-prinsip syariat, baik dalam pengertian agama sebagai wahyu maupun agama sebagai kultur Islami.[9] Paradigma rancang bangun pendidikan yang dimaksud oleh penulis buku adalah paradigma integratif sebagaimana yang disebutkan dalam definisi tersebut.
Dengan demikian, menurut Hartono jika pembelajaran tersebut dilaksanakan dan berhasil maka akan melahirkan saintis-saintis dan tehnolog-tehnolog “Jenis baru” yang dibutuhkan dalam proses pendidikan sains dan tehnologi  yang integral dan holistik[10], bukan saintis dan tehnolog yang picik. Salah satu lembaga yang melakukan pengembangan desain kurikulum dalam proses pembelajaran yang memadukan sains dan tehnologi dengan nilai-nilai agama (Integrasi) adalah MA Darul Ulum Jombang sebagaimana yang beliau teliti. Menurut Moh. Roqib, dalam merancang desain kurikulum dalam pendidikan Islam minimal ada tiga prinsip yang harus dipengangi:[11] pertama, pengembangan pendekatan relegius kepada dan melalui semua cabang ilmu pengetahuan; kedua, isi materi pelajaran yang bersifat relegius seharusnya bebas dari ide dan materi yang jumud dan tak bermakna; dan ketiga, pembuatan kurikulum harus memperhitungkan setiap komponen yang oleh Taylor yang sering disebut tiga prinsip : Kontinuitas (kesinambungan), Sekuensi dan Integrasi. Dalam konteks yang lebih operasional bahan pelajaran perlu disajikan pula dalam bentuk Sekuensi, Gradasi, kuantitas dan berbagai pendukung lain yang sesuai dengan tujuan pendidikan.[12] Jika melihat rancang bangun desain kurikulum tersebut cukup menarik melihat visi dari MA Darul Ulum Jombang yaitu “…Mencetak santri yang Berotak London dan Berhati Masjidil Haram”. Visi inilah yang menjadi inspirasi dalam proses pengembangan pembelajaran di MA Darul Ulum Jombang.
Dalam buku ini menyuguhkan banyak teori-teori relasi dunia sains, agama, nilai dan manusia dalam pembelajaran. Dalam kaitannya hubungan agama dan sains, penulis buku melihat ada titik temu antara agama dan sains modern dan keduanya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dengan demikian maka hubungan sains dan agama tidak lagi pada tahap konflik, independensi, atau dialog, tetapi telah masuk pada tahap integrasi berupa dialog antara sains dan agama. Pada bab ini juga banyak membahas tentang pilar-pilar integrasi sains dan agama dengan berpijak pada tiga pilar. Tiga pilar sains Islam jelas harus dibangun dari prinsip tauhid yang tersari dalam kalimat Laailaha illaallah dan terdeskripsi dalam rukun iman dan rukun Islam.[13] Pertama, Ontologi yaitu bahwa objek integrasi sains dan agama adalah dualistik yang holistik yaitu  realitas yang nyata (material) dan tidak nyata (immaterial). Kedua, Epistimologi artinya integrasi sains dan agama menempatkan mata, telinga, dan hati sebagai sumber pengetahuan dengan menempatkan entitas fisik dan non fisik sebagai objeknya. Ketiga,  Aksiologi yang menekankan pada aspek nilai untuk menghindari krisis. Sains mestinya direkonstruksi dan dikembangkan untuk membantu manusia menjadi orang yang pandai bersyukur.   
Buku ini juga banyak mengupas tentang implementasi integrasi sains dan agama dalam pembelajaran beserta contoh-contoh model integrasi sains dan agama. Diantaranya adalah, pertama,  pada kasus materi pembelajaran kelas X pembahasan tentang Gerhana. Selain dengan teori sains juga diintegrasikan dengan ayat Al Qur’an surat An Nahl 16 dan Hadist Nabi. Kedua, Pembahasan tentang fenomena hujan dengan menggunakan pendekatan sains dan agama. Ketiga, Pembahasan Biologi dalam Al Qur’an tentang keanekaragaman kehidupan hewanDisamping itu juga kasus materi kelas XI tentang penciptaan manusia, minyak bumi dan panca indera. Integrasi sains dan agama sebagai model pembelajaran untuk mata pelajaran IPA atau Pendidikan Agama Islam (PAI) tentu memiliki efek-efek pembelajaran. Tentunya, efek-efek positif dan produktiflah yang mestinya dicari dalam integrasi sains dan agama. Sesuatu yang positif dan produktif inilah yang penulis buku ia sebut pendidikan nilai. Menurut Fraenkel, nilai adalah “…is a idea a concept about what some one thinks is important in life”.[14] Nilai adalah sebuah ide. Ide mengenai konsep yang dipikirkan orang banyak dan sesuatu penting itu dalam hidup. Efek-efek positif dari pembelajaran integratif dari hasil penelitian tersebut antara lain: bertambahnya keimanan dan ketaqwaan, munculnya “sains baru” (wujud sains Qurani),[15] membangkitkan rasa syukur, membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan meningkatkan rasa percaya diri siswa.
Bertolak dari hal tersebut, maka pendidikan Islam akan dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan dalam rangka mewujudkan pendidikan integratif yang mencoba secara maksimal mengembangkan ketiga potensi manusia tersebut. Terlebih dalam kondisi sekarang di mana tuntutan kepada sumber daya manusia yang unggul menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.
Dari hasil penelitian buku ini menghasilkan model pendidikan nilai dalam pembelajaran integrasi sains dan agama dan merekonstruksi ranah keilmuan berupa “wujud sains qurani”. Pilar-pilar Rekonstruksi ranah keilmuan dalam sains baru meliputi metafisika dalam sains qur’ani, reasoning (Pembentukan) sains qur’an, sistem epistimologi sains qur’an, dan aksiologi sains qur’an. Sedangkan rekonstruksi pada ranah pembelajaran ia jelaskan dari hasil simpulan dari penelitian yang berupa produk integrasi sains qur’ani yang ia sebut sebagai “sains qur’ani”. Dari hasil produk itulah lahirlah pemahaman tentang pengakuan atas kekuasaan Allah, kekaguman atas kerja alam ini, pengakuan diri lemah dibanding kuasa Allah, dan sebagainya selalu terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran. Subhanaallah, Allahu Akbar, Innalillahi wa innailaihi rajiun, Alhamdulilah dan lain-lain menjadi ekspresi spontan peserta didik selama dan setelah proses pembelajaran integrasi tersebut yang selalu mengagungkan Allah SWT. Dan ujung dari pemahaman terhadap materi integrasi adalah kepribadian yang penuh rasa syukur. Dengan pendidikan demikian, akan memproduksi rasa syukur sebagai akibat dari produk pengetahuan integratif, yaitu kompeten secara keilmuan dan   kepribadian yang penuh syukur.
Pembahasan tentang pendidikan integratif dalam buku ini menggunakan pisau bedah dan pendekatan teori-teori filsafat, menjadikan buku ini berbobot dan lebih mendalam pembahasannya. Sehingga pembaca betul-betul dapat memahami dengan tajam tentang maksud dari penulis buku. Di samping itu, dengan menghadirkan beberapa contoh dalam integrasi beberapa materi sains  dalam buku tersebut, menjadikan kekuatan lebih dari buku tersebut. Pembaca akan langsung dapat melihat contoh riil dari model pembelajaran integratif.
Suatu kritik untuk buku ini adalah bahwa pemabahasan diawali langsung dengan beberapa contoh materi sains yang di integrasikan. Pada aspek pengembangan kurikulum integrasi sains justru tidak nampak pada pembahasan buku ini. Ini menjadikan pembahasan integrasi kurikulum sepertinya terpisah dari materi integrasi sains. Padahal keduanya merupakan bagian dari kurikulum secara keseluruhan (komprehensip).
Dan terakhir, Keseluruhan isi buku merupakan ungkapkan gagasan terkait format baru pendidikan yang lebih komprehensif dengan membidik manusia yang tidak terpisah dengan Tuhan dan alam (antropologis) sebagai paradigmanya. Bukan sekedar gagasan, melainkan potret pendidikan ideal di masa depan. Realisasi lebih bagus daripada konsep dan design, semoga suatu saat nanti ditemukan lembaga pendidikan semacam ini.
D.  Penutup
Akhirnya, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya buku karya Hartono ini setidaknya telah memberi kontribusi positif bagi pengembangan disiplin ilmu pendidikan Islam, terutama memperkaya khazanah kajian Pendidikan Nilai.  Tentu sangat menarik untuk dibaca karena diharapkan setelah membaca buku ini dapat memberikan inspirasi dan energi positif bagi guru maupun pembaca dalam menyusun materi ajar dan dalam pembelajaran dengan bingkai dan nuansa integratif. Contoh-contoh materi yang diintegrasikan dalam pembelajaran sains terasa berbeda dan menjadi ruh dalam proses pembelajaran dengan perpaduan sains modern dan dibingkai dengan ayat-ayat Al Qur’an.
Dan yang paling penting dari itu semuanya, model yang ditawarkan dalam buku ini dapat diadopsi dan diimplementasikan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sebagai buku edukatif, buku ini sangat layak dijadikan salah satu referensi yang sangat penting bagi pengembangan kurikulum dan pembelajaran di lembaga pendidikan Islam atau bagi kalangan yang ingin menambah wawasan dibidang kajian pendidikan nilai.
DAFTAR PUSTAKA
Alberta Education  Team, (2007), Primary Programs Framework for Teaching and Learning, Curriculum Integration: Making Connections, Canada: Alberta.
Bakar, Omar, (2008), Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains, Bandung : Pustaka hidayah.
Barber, James Patrick, (2009),  Integration of Learning: Meaning Making For Undergraduates Throught Connection, Aplication, and Synthesis, Dissertation,  The University of Michigan
Doll, Ronald C, (1974), Curriculum Improvement: Decition Making and Process, Boston: Allyn and Bacon,Inc.
Feisal, Jusuf Amir, (1995), Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press.
J.R, Frainkel, , (1977), How to Teach about Values: An Analityc Approach, New Jersey: Prentice-Hall,inc.
Mahmudah, Siti, (2009), “Mengembangkan Kecerdasan Manusia Melalui Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Nizamia, vol 12, no.1
Musafah, Jejen, (2012), (ed),Pendidikan Holistik, Pendekatan Lintas Perspektif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Purwanto, Agus, (2008),Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Qur’an Yang Terlupakan, Bandung: Mizan.
Roqib, Moh, (2009), Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat, Yogyakarta: LKis.
Saryono, Djoko, (2003), “Pendidikan Sekolah sebagai Wahana Pembentukan Karakter dan Intelektual Pelajar untuk Menyongsong Abad Pengetahuan”, dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 2 no. 8
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI,( 2007), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian III Pendidikan Disiplin Ilmu, cet II, Jakarta: PT Imperial Bhakti Utama.
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.




[1] Profil penulis buku dirangkum dari biografi beliau di dalam buku tersebut
[2] Ilustrasi gambar sampul buku ini cukup mewakili judul buku. Artinya bahwa seorang perempuan bule yang sedang belajar sains seolah-olah mewakili Barat yang sekuler dan lepas dari nilai agama, sehingga menghasilkan produk-produk sains modern yang canggih. Sedangkan gambar seorang ibu yang sedang mengajari putrinya membaca Al Qur’an menggambarkan seolah-olah Agama terpisah dari dunia sains. Judul “Pendidikan Integratif” inilah yang menjadi solusi yang ditawarkan penulis buku dalam mendamaikan Agama dan Sains sehingga menghasilkan saintis-qur’ani.  
[3]Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI,( 2007), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian III Pendidikan Disiplin Ilmu, cet II, Jakarta: PT Imperial Bhakti Utama, hal. 14.
[4] Tujuan Pendidikan Nasional adalah …bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Lihat Bab II pasal 3 Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[5] Lihat Omar Bakar, (2008), Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains, Bandung : Pustaka hidayah, hal. 34
[6] Pendidikan hanya mengedepankan kecerdasan otak dengan sejumlah materi pelajaran yang harus dikuasai dan dipahami oleh peserta didik, dan profil hasil belajarnya hanya diukur dari nilai-nilai akademik. Lihat dalam Djoko Saryono, “Pendidikan Sekolah sebagai Wahana Pembentukan Karakter dan Intelektual Pelajar untuk Menyongsong Abad Pengetahuan”, dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 2 no. 8, 2003, hal.133-134. Akibatnya  dikhawatirkan akan menghasilkan peserta didik yang pintar tetapi buta hati. Yang demikian ini terbukti betapa banyak orang berpendidikan tinggi, dengan sejumlah gelar di depan dan di belakang, tetapi masih tetap melakukan korupsi, kolusi, dan manipulasi. Banyak lulusan pendidikan yang tidak dapat berkiprah di dunia pekerjaan sehingga terjadilah pengangguran intelektual. Apabila populasi pengangguran meningkat, akan menimbulkan masalah sosial, seperti krisis moral yang dapat berbuntut pada multikrisis. Lihat Siti Mahmudah, “Mengembangkan Kecerdasan Manusia Melalui Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Nizamia, vol 12, no.1, 2009, hal.88
[7] Alberta Education  Team, (2007), Primary Programs Framework for Teaching and Learning, Curriculum Integration: Making Connections, Canada: Alberta, hal.1. Didownload tanggal 1 Juli 2013, pukul 09.00
[8] Dalam beberapa tahun terakhir, istilah-integrasi telah semakin banyak digunakan untuk menggambarkan ide untuk pembelajaran terhubung atau terpadu, dan telah memperoleh perhatian sebagai hasil penting dari pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Lihat Kendall Brown, Lindsay, & VanHecke dalam  James Patrick Barber, (2009),  Integration of Learning: Meaning Making For Undergraduates Throught Connection, Aplication, and Synthesis, Dissertation,  The University of Michigan,  hal.13. Didownload tanggal 1 Juli 2013, pukul 09.00
[9] Jusuf Amir Feisal, (1995), Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, hal. 19. Lebih lanjut setiap satuan pelajar dan seluruh struktur kurikulumnya berwawasan Islami sehingga tidak ada satu kegiatan pun yang terlepas dari pendidikan syariat.
[10] Pendidikan holistik merupakan pendidikan yang memberikan pemahaman terhadap problem-problem global seperti Hak Azasi Manusia (HAM), Keadilan Sosial, Agama, Integrasi, pemanasan global dan lain-lain, sehingga mampu melahirkan peserta didik yang berwawasan dan berkarakter global serta mampu memberikan solusi terhadap problem kemanusiaan. Lihat Jejen Musafah, (2012), (ed),Pendidikan Holistik, Pendekatan LintasPerspektif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal. 4-5.
[11] Moh. Roqib, (2009), Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat, Yogyakarta: LKis, hal.77-78.
[12] Ronald C Doll, (1974), Curriculum Improvement: Decition Making and Process, Boston: Allyn and Bacon,Inc, hal. 139. Prinsip integrasi dalam pandangan Moh.Roqib merupakan sebuah prinsip yang memandang adanya wujud kesatuan kehidupan dunia-akherat. Kehidupan di dua ala mini dipandang sebagai suatu perjalanan yang tidak terputus. Dunia diletakkan sebagai jembatan menuju alam akherat yang abadi. Lihat, Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, hal.84.
[13] Agus Purwanto, (2008), Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Qur’an Yang Terlupakan, Bandung: Mizan, hal.189.
[14] Frainkel, J.R, (1977), How to Teach about Values: An Analityc Approach, New Jersey: Prentice-Hall,inc, hal.6.
[15] Yang ia maksud sains baru adalah hasil perpaduan (integrasi) sains dan agama dalam pembelajaran sains yang menjadikan Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan utama.

Saling Memaafkan


Kisah Sahabat Nabi
Seorang pembunuh terlihat pasrah menyongsong hukuman mati yang akan menimpanya. Sebelum eksekusi, sang hakim bertanya kepada si terdakwa, “Apakah permintaan terakhirmu?”
“Bila mungkin, aku mohon diijinkan pulang ke kampung selama 3 hari,” jawabnya dengan kepala tertunduk. “Aku ingin pamit dan menyelesaikan amanah dan hutang yang aku pikul dengan beberapa orang,” lanjutnya.
Mendengar itu, sang hakim menarik nafas panjang dan berkata, “Permintaanmu bisa kukabulkan, asal ada seseorang yang menjaminkan diri untukmu. Bila engkau tidak kembali, maka diri penjaminlah yang dihukum mati.”
Suasana menjadi sepi. Massa yang berkumpul di lapangan terdiam. Tidak ada seorang pun yang berani mengambil resiko tersebut.
Di tengah kebisuan, tiba-tiba maju seorang sahabat Nabi yang sangat terkenal. Ia adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga. Abu Dzar Al-Ghifari. Ia rela menjadi penjamin si pembunuh.
Tiga hari telah berlalu. Batas akhir eksekusi tinggal menunggu menit. Banyak khalayak mulai gelisah, bahkan menangis. Sebab Abu Dzar akan dieksekusi menggantikan si pembunuh.

Di tengah-tengah kekuatiran dan kesedihan tersebut, nampaklah si pembunuh dengan susah payah berlari-lari menuju tempat eksekusi. “Maaf, aku terlambat, karena ada sedikit halangan halangan di jalan,” terangnya dengan nafas masih tersengal-sengal.
Mendengar itu, sang hakim sangat heran dan bertanya, “Wahai terdakwa, mengapa engkau mau kembali lagi memenuhi hukumanmu? Bukankah engkau dapat saja melarikan diri?”
“Pak Hakim, bisa saja saya melarikan diri dari hukuman ini. Namun bagaimana saya hendak lari dari hukuman Allah.” jawabnya dengan tegas.
“Yang tidak kalah pentingnya Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Saya tidak mau ada catatan sejarah bahwa pernah ada seorang muslim yang lari dari tanggungjawab serta mengkhianati kepercayaan orang yang telah menolongnya,” pungkas si pembunuh.
Belum hilang takjub sang hakim mendengar jawaban tersebut, terdengar suara dari perwakilan keluarga korban. “Pak Hakim, tolong bebaskan si terdakwa ini. Kami telah memaafkannya,” pinta mereka.

“Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Kami tidak ingin tercatat dalam sejarah, ada seorang muslim yang tidak memaafkan kesalahan saudaranya yang Muslim. Apalagi, dia membunuh bukan karena disengaja,” lanjut mereka.

Sang Hakim diam seribu bahasa diliputi rasa heran sekaligus haru. Ia pun kemudian memerintahkan untuk membebaskan si pembunuh. Namun sebelum sidang dbubarkan, sang hakim sempat bertanya kepada Abu Dzar.

“Wahai Abu Dzar, tolong jelaskan mengapa engkau berani mengorbankan diri untuk menjamin pembunuh ini? Bukankah dia bukan keluargamu? Bahkan, dia tidak engkau kenal sama sekali?”

Dengan enggan Abu Dzar menjawab, “Pak hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang Muslim. Aku tidak ingin ada catatan dalam sejarah, bahwa pernah suatu saat ada kejadian seorang muslim tidak mau menolong saudaranya yang sedang butuh pertolongan.”
Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah :

1. Manusia bisa saja bebas dan lepas dari jerat hukum manusia, namun tidak bisa menghindar dari hukum Allah.
2. Sudah selayaknya sesama manusia saling percaya dan tidak mengkhianati kepercayaan orang lain.
3. Sesama manusia harus saling memaafkan, karena Allah pun Maha Pemaaf.
4. Sesama manusia sudah selayaknya saling tolong menolong.

Minggu, 07 Juli 2013

Prophetik Education

“Prophetic Education:
 Kontekstualisasi Filsafat dan Budaya Profetik dalam Pendidikan”*
Oleh Abd Qohin

I.     Pendahuluan
Majunya penguasaan tehnologi oleh dunia barat berdampak pada sikap kelimpungan yang ditunjukkan oleh komunitas muslim. Disinyalir ketertinggalan umat Islam disebabkan diantaranya adalah kelemahan pendidikan. Ketika dihadapkan pada situasi demikian, maka secara reaksioner banyak kalangan yang kemudian mengadopsi sistem pendidikan barat yang diramu dengan pendidikan Islam. Hasilnya adalah sikap kebarat-baratan yang semakin menambah komplek persoalan umat muslim.
Sebagian lain, umat Islam merasa tidak peduli terhadap ketertinggalan dan tetap merasa bangga terhadap khazanah keilmuan dan budaya hidupnya. Pengkultusan terhadap tradisi dan pemikiran keagamaan sulit tergeser apalagi dipertanyakan. Sikap demikian mengalami perubahan setelah pesantren dan madrasah melakukan perbaikan kurikulum dan sistem pembelajarannya tahun 1970-an. Di Negara-negara lain juga terjadi reaksi dengan dengan membangun gerakan dan proyek yang digulirkan oleh Syeed Mohammad Naquib Al Attas dan Ismail R. Al Faruqi dengan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” yang lahir dari konferensi Internasional di Makkah. Kemudian direspon oleh Ziaudin Sardar yang kemudian dikoreksi oleh Arkoun dan Fazlur Rahman yang menganggap proyek tersebut sulit direalisasikan. Penolakan lain juga dilakukan oleh Kuntowijoyo dengan menawarkan konsep “Islam sebagai Ilmu”.
Upaya pengembangan Pendidikan Islam selain mengaca pada Negara lain (Barat), juga tidak kalah pentingnya adalah menggali kembali pemikiran filsafat Islam dan budaya luhur bangsa itu sendiri kemudian mengelaborasikan menjadi sebuah pijakan kongrit dalam melakukan pembahuruan pendidikan Islam. Untuk kepentingan itu, pemerintah dan masyarakat harus mengapresiasi budaya baca termasuk membaca karya sastra agar memiliki peran optimal baik dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Karya sastra sebagai bacaan (cerita) dapat berperan menjadi  guru bagi pembacanya dan pembaca bisa mengambil pelajaran secara otonom dan mandiri.
Pendidikan Islam dengan menggunakan budaya sangat diperlukan sebagai bagian dari pembentukan jatidiri muslim lewat lingkungan dengan symbol-simbol edukatif-relegius yang dimilikinya. Di samping itu, pendidikan Islam didasarkan pada nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah berdialog secara kontinu dengan tradisi dan budaya setempat sehingga akan saling mempengaruhi sebab keduanya, nilai dan simbol. Di Indonesia budayawan dan sastrawan muslim telah dikenal sejak awal Islam masuk, diantaranya adalah Hamzah Fansuri seorang penyair tasawuf dan yang menawarkan gagasan cinta dengan syair populernya “Syair Perahu”. Hamka seorang penulis kreatif interdisipliner, Emha Ainun Nadjib budayawan nyeleneh dari Jombang dengan kyai kanjengnya, ada juga budayawan sekaligus kyai karismatik K.H Mustofa Bisri dengan puisi “balsem”nya memberikan obat mujarab dan pendidikan bagi pembacanya. Selain di atas ada Ahmad Tohari (kang Tohari) yang dikenal karena memiliki kecenderungan warna daerah pedesaan atau lokal dari Banyumas.
Meski jauh dari hiruk pikuk entertainment namanya sangat meng-internasional  karena sebagian karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan telah dijadikan skripsi, tesis dan disertasi. Namanya semakin popular setelah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala dll. Pengaruh karya kang tohari memiliki nilai pendidikan profetik yaitu pendidikan yang memiliki pilar humanisasi, liberasi (keberpihakan pada rakyat)dan transendensi (ramah lingkungan sebagai bagian bertasbih kepada Allah).
II.     Filsafat dan Budaya Profetik
A.    Pengertian Profetik dan Filsafat Profetik
Profetik berarti kenabian atau berkenaan dengan nabi. Nabi adalah hamba Allah yang ideal secara fisik dan psikis yang telah berintegrasi dengan Allah dan Malikat-Nya, diberi kitab suci dan hikmah dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan dan mengkomunikasikan secara efektif kepada sesame manusia. Dalam Al Qur’an kata nabi beserta derivasinya disebut 69 kali. Sedangkan kenabian  mengandung makna segala ihwal yang berhubungan dengan seseorang yang telah memperoleh potensi kenabian. Potensi itu meliputi kesempurnaan fisik, memiliki nasab keturunan yang mulia, dan ideal dalam kompetensinya sesuai dengan kondisi masa itu.
Filsafat profetik adalah pemikiran filosofis yang didasarkan pada nilai-nilai kenabian dalam Al Qur’an dan Sunnah dengan berbagai upaya pemikiran reflektif-spekulatif sampai pada penelitian empirik sehingga menemukan kebenaran normatif dan faktual-aplikatif yang memiliki daya sebagai penggerak umat sehingga terbentuk khaira ummah atau komunitas ideal.
Secara historis, filsafat profetik diperbincangkan intensif oleh Ibnu Arabi dan Suhrawardi yang secara garis besar mengkritik filsafat dan Yunani serta menawarkan filsafat propetik yang intinya adalah dialektika manusia, alam dan Tuhan dikembangkan untuk mendapatkan produk pemikiran baru sebagai alternatif pemikiran barat yang dinyatakan gagal. Dari filsafat profetik dapat dikembangkan ilmu-ilmu lain seperti Prophetic Psychology atau psikologi kenabian.
B.     Problema Sentral Filsafat Profetik
Menurut Roger Garaudy, Problema sentral dari filsafat Islam adalah bagaimana kenabian (wahyu) itu menjadi mungkin. Dan muara filsafat profetik pada tiga hal, yaitu: Pertama, terdapat hubungan riil dan tidak riil antara “Yang Esa” dengan “yang banyak” antara Tuhan dan manusia. Kedua, berdasar pada kesatuan atau utility di atas muncul hukum bahwa tindakan dan hukum apapun dari seorang muslim merupakan manifestasi ekspresif dari agamanya. Ketiga, orang tidak akan mampu membuktikan adanya Tuhan dengan akal karena manusia belum menemukan cara berfikir untuk menghantarkan iman kepada Tuhan.
C.    Budaya Profetik dan Pilarnya
Kebudayaan Islam adalah budaya profetik yang memiliki tiga unsur yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Transendensi diartikan hablum min Allah, ikatan spiritual yang mengikatkan antara manusia dengan Tuhan. Indicator unsure ini adalah: 1) mengakui adanya kekuatan supra natural, Allah. 2) melakukan upaya pendekatan diri. 3) tuhan tempat bergantung. 4) memahami sesuatu dengan pendekatan mistik. 5) mengaitkan perilaku, tindakan dan kejadian dengan ajaran kitab suci.
Liberasi artinya pembebasan dari semua yang berkonotasi dengan signifikansi sosial seperti melarang carok, memberantas judi dll. Sedangkan indicator liberasi dirumuskan dengan, 1) memihak kepentingan rakyat, 2) menegakkan keadilan dan kebenaran; 3) memberantas kebodohan dan ketertinggalan sosial ekonomi; 4) menghilangkan penindasan dan kekerasan.
Humanisasi, artinya memanusiakan manusia, menghilangkan kebendaan dan proses pengembalian jatidiri dan martabat kemanusiaan sebagai mahluk mulia dan berperadaban. Indikatornya adalah: 1) Menjaga persaudaraan sesama meski berbeda agama, keyakinan dan status sosial-ekonomi; 2) memandang seseorang secara total; 3) menghilangkan berbagai bentuk kekerasan; 4) membuang jauh kebencian terhadap sesama. Unsur tersebut harus dimaknai dalam satu kesatuan integratif dan interkoneksi.
Adapun implementasi budaya profetik meliputi: 1) mengembangkan mitologipositif sebagai simbol edukasi; 2) membangun tradisi dan komitmen yang positif; 3) perberdayaan dan peningkatan SDM; 4) Pemberantasan kemiskinan dan kebodohan; 5) Peneguhan Keagamaan Inklusif; 6) dan melalui music edukatif.
D.    Pendidikan Profetik
Filsafat pendidikan profetik merupakan proses transfer knowledge and values untuk pengesaan terhadap Allah yang dilakukan secara kontinu dan dinamis disertai pemahaman bahwa dalam diri ada kelebihan dan kekurangan yang menunjukkan adanya campur tangan yang transenden. Sedangkan pendidikan profetik  adalah proses pengetahuan (transfer knowledge) dan values yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhandan alam sekaligus memahaminya untuk membangun komunitas sosial yang ideal (khaira ummah).
III.     Tradisi sebagai Dasar Pendidikan Profetik
A.    Tradisi Islam dalam Masyarakat
Pesantren merupakan salah satu lembaga yang mewakili tradisi pendidikan profetik. Pesantren yang berakulturasi dengan tradisi jawamemiliki cirri yang sangat menonjol yaitu memepertahankan harmonitas sosial dalam konotasi Jawa sanagat dipaksakan dan menunjukkan nilai-nilai feudal dan cenderung kurang responsif terhadap perubahan dan kemajuan. Jargon yang ada di Pesantren al muhafadzah ‘ala al qadim al salih wa al akhzd bi al jadid (mempertahankan masa lalu yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Merupakan  odel harmoni yang sehat meskipun selama ini masih belum berjalan dengan sempurna.
Secara historis, penyebaran Islam di Jawa pada awalnya harus berhadapan dengan dua jenis lingkungan, yaitu: budaya kejawen yang merupakan lingkungan budaya istana (Majapahit) yang kental dengan unsur Hindu, dan budaya pedesaan (wong cilik) yang tetap hidup dalam animism dan dinamisme. Dengan masuknya Islam ke Nusantara maka berimplikasi pada dinamika baru terkait dengan kehidupan sosial keagamaan. Asimilasi budaya terjadi yang sebelumnya terjadi konflik dan akomodasi yang pada akhirnya menghasilakn berbagai varian keislaman yang kemudian disebut Islam lokal (Islam Jawa).
Pada masa perumusan dan pelembagaan budaya Jawa, pengaruh Islam yang besar pada wacana yang berkembang Islam telah membentuk substansi utama dalam proses kebangkitan budaya Jawa. Islam sebgai entitas yang hidup dinamis pada akhirnya berkembang dengan dialektika yang dinamis selalu terjadi antara Islam dalam kategori universal-normatif dengan lokalitas-historis dimana ia hidup. Islam yang telah berdialog dengan Jawa mengenal dan akrab dengan hal-hal yang berbau mistis yang nantinya akan melahirkan berbagai aliran kebatinan yang bersifat mistis, akultis, teosofis, serta etis.


B.     Sistim Pendidikan dalam Tradisi Profetik
Tujuan pendidikan profetik sesungguhnya tidak lepas dari prinsip-prinsip pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah. Pertama, Prinsip Integrasi (Tauhid) yang memandang adanya wujud kesatuan dunia akherat. Karena itu pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang. Kedua, prinsip keseimbangan artinya keseimbangan yang proporsional antara muatan rohaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni dan ilmu terapan. Ketiga, prinsip persamaan dan pembebasan. Keempat, prinsip kontinuitas dan berkelanjutan. Kelima prinsip kemaslahatan dan keutamaan.
Adapun materi pendidikan profetik dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu: pertama, kelompok Parennial (ilmu-ilmu abadi) yang meliputi Al Qur’an (qiraat, hifz, tafsir), Sunnah, Sirah nabi, tauhid, ushul fiqh, bahasa arab dan materi tambahan yang meliputi filsafat Islam, ushuludin, dan kebudayaan Islam. Kedua, kelompok Acquired (ilmu hasil pencarian manusia) yang terdiri dari: 1. Imajinatif (seni Islam dan arsitektur, bahasa dan satra), 2) Ilmu-ilmu intelektual (sosial, filsafat, pendidikan, ekonomi, politik, sejarah, geografi, sosiologi Psikologi dan antropologi). 3) Ilmu-ilmu pengetahuan alam (filsafat ilmu, fisika, matematika kimia dll). 4) Ilmu terapan (kedokteran, pertanian, kehutanan dll). 5) Ilmu-Ilmu Praktik (perdagangan, administrasi perpustakaan, komunikasi dll).
Mengenai pendidik pendidikan profetik adalah pendidik yang mempunyai kepribadian yang lengkap misalkan ia adalah seseorang yang zuhud dan ikhlas, bersih lahir batin, mengenal peserta didik, bersifat kebapakan dan keibuan dll. Kepribadian pendidik harus merupakan refleksi dari nilai-nilai Islam. Sedangkan peserta didik pendidikan profetik selalu terkait dengan pandangan wahyu tentang hakekat manusia.
Metode dan media dalam pendidikan profetik tidak ada perbedaan dengan pendidikan lain. Pembedanya hanya pada nilai spiritual dan mental yang menyertai pada saat metode tersebut dilaksanakan. Sedangkan untuk evalausi berdasarkan standar keberhasilan pendidikan terletak pada pencapaian tujuan kebahagiaan di dunia dan kebahagian di akherat.
IV.     Kontekstualisasi Pendidikan profetik
Khaira ummah sebagaimana Q.S Ali Imron terdiri dari 3 kata dibelakangnya yaitu kata yang terkait dengan amar ma;ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan iman kepada Allah (transendensi). Apabila dikaitkan dengan ketiga pilar ini pendidikan profetik itu harus dibangun berdasarkan empat syarat dan tiga pilar atau unsure. Dasar bangunan yang bertumpu pada empat hal yaitu komunitas, visi arah tujuan, gerak dinamis atau program kerja, dan kepemimpinan. Bagi komunitas dan pemimpin yang menjadi subjek bagi pelaksanaan visi dan prakteknya, yaitu nilai transendensi yag menjadi orientasi dan visi hidup subjek, humanisasi untuk selalu meningkatkan martabat menuju keterpujian, dan terakhir liberasi untuk membersihkan diri dari kotoran, kelemahan, kekurangan dll. Dalam kerangka itulah Nabi Muhamad membentuk khaira ummah (masyarakat ideal di Madinah) dibawah kepemimpinan yang bijaksana dan berwibawa.
Kontektualisasi pendidikan profetik dapat dilihat dari Model pendidikan profetik yang memiliki potensi kuat untuk dikembangkan dengan paradigm pendidikan profetik. Model pendidikan tersebut diantaranya adalah pendidikan sosial- kerakyatan (homescholing), pendidikan inklusif-multikultural, pendidikan integrative-interkoneksi, pendidikan berdasarkan gerak-kreatif, pendidikan edutainment plus (menyenangkan dan mendisiplinkan).
Selain lembaga di atas, secara kelembagan dalam konteks pendidikan profetik, lembaga pendidikan baik formal maupun non formal serta lembaga yang berada di luar sekolah atau madrasah yang terdiri dari pendidikan di perpustakaan, pendidikan di Pondok Pesantren dan pendidikan ditempat ibadah dapat berintegrasi dalam satu lembaga dengan berpusat pada masjid dan perpustakaan sebagai pusatnya. Desain masjid sebagai pusat pendidikan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi pendidikan profetik.
Pendidikan keluarga juga bagian dari kelembagaan profetik yang letak dasarnya ada di dalam tradisi keluarga yang memiliki kesadaran relegius, kepekaan sosial, dan kesiapan untuk selalu melakukan perbaikan untuk kemajuan. Selain keluarga, juga ada masjid sebagai pusat gerakan, memuat daya dobrak tinggi sebab dalam realitasnya setiap orang berbeda-beda.
V.     Pemikiran Ahmad Tohari Dalam Paradigma Profetik
Secara keseluruhan karya kang Tohari  yang telah diterbitkan menjadi buku ada14 buku merupan novel  (9 buku), kumpulan cerpen (2 buku), dan kumpulan esai (3 buku). Kesemua karya Ahmad Tohari memiliki pesan pendidikan profetik sebagai berikut:
1.      Pengakuan sebagai kebutuhan manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari karya pertama belia yang berbentuk novel dengan judul Kubah dan novel Lingkar Tanah Lingkar Air.
2.      Memberantas Kemiskinan dan Kebodohan. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan symbol protes tersebut. Selain itu juga dalam novel Bekisar merah, Belantik, dan cerpen Senyum Karyamin.
3.      Protes terhadap Ketidakadilan dan korupsi. Hal ini terlihat dalam karya novel Di Kaki Bukit Cibalak  dan novel Orang-orang Proyek.
4.      Nilai Penting klarifikasi dan memaafkan. Hal ini bisa dilihat dalam novel Rusmi Ingin Pulang, Kubah, Mas Mantri Gugat.
Jika dipotret dengan pendekatan strukturalisme genetic, maka karya Ahmad Tohari memiliki pesan dan karakteristik: Pertama, penyadaran sosial lewat sebuah cerita yang syarat dengan masalah kehidupan. Kedua, pilar dan nilai transendensi diceritakan dengan graduasi yang lembut secara bertahap. Ketiga, dari aspek sosial budaya karya Ahmad Tohari membawa misi kovergensi antara budaya Islam, santri (Tradisional-modern) dan abangan yang menunjukkan bukti harmonisasi berkembang di Indonesia. Keempat, dari aspek politis, Ahmad Tohari bersikap anti kekerasan dan pemberontakan.
Potret pemikiran Ahmad Tohari yang santri jawa ini agak berbeda dengan pemikiran santri pada umumnya. Karakteristik pemikirannya tersebut diantaranya: menyampaikan gagasan dan pesan edukasinya lewat karya tulis, mengadopsi kearifan local atau tradisi kejawen, kritik sosial khususnya kekejaman penguasa, kritik terhadap tradisi negatif masyarakat. Sedangkan karya Tohari secara globaldalam perspektif profetik dapat dijelaskan diantaranya adalah mengembangkan keberagamaan inklusif, komitmen pada tradisi positif, keadilan untuk mengangkat posisi perempuan dan pemberantasan kemiskinan dan kebodohan.
Indikator pendidikan profetik Ahmad Tohari dapat di urai sebagi berikut:
a.    Pilar Transendensi:
1.    Terkait dengan kekuatan mistis dan spiritual untuk mengatasi problem kehidupan, belaiu mendialogkan keberagamaan local dengan santri.
2.    Keberagamaan inklusif dan anti kekerasan yang merupakan tampilan model keberagamaan yang sejuk.
3.    Integritas moral-relegius harus diupayakan sampai pada pemaknaan hakiki.
4.    Perlu mengembangkan kesalehan relegius individual dilengkapi kesalihan sosial.
5.    Keyakinan terhadap yang gaib.
6.    Harmonitas.
7.    Kejujuran diri dengan mengikuti hati nurani.
8.    Sikap tawakkal.
9.    Perilaku kesederhanaan. dll
b.    Pilar liberasi:
1.      Penegakan hukum harus dilakukan meskipun langit runtuh.
2.      Pendirian pemerintah yang kuat, bijaksana dan berwibawa.
3.      Menjaga pluralitas
4.      Peningkatan SDM
5.      Penguatan posisi tokoh agama sebagai panutan umat.
6.      Menciptakan lingkungan sosial yang jujur dan bersih.
7.      Menjaga sikap egaliter.
8.      Peningkatan mutu pendidikan.
9.      Menghilangkan kekerasan dalam bentuk apapun dll.
c.    Pilar Humanisasi:
1.      Meningkatkan hidup bersama dengan saling mengerti.
2.      Menjalankan ajaran agama  untuk mengabdi kepada Allah.
3.      Membangun nilai kemanusiaan dengan cinta.
4.      Mempertajam nilai kemanusiaa dengan keyakinan agama.
5.      Hukum darurat sebagai alternatif.
6.      Mudah memaafkan kesalahan orang lain
7.      Dinamika hidup harus dibangun dengan memenej konflik.
8.      Kemanusiaan harus dikembangkan dengan rasa hormat dan saling menghargai.
VI.     Implikasi Nilai Pendidikan Profetik
Diantara implikasi aplikasi dan kontekstualisasi pendidikan profetik dalam bingkai karya sastra Ahmad Tohari diantaranya adalah: pertama, menjadikan tauhid sebagai landasan epistimologi; Kedua, mengintegrasikan moral Tuhan dan menginterkoneksikan ilmu-Nya; Ketiga, pendidikan yang Apresiatif terhadap local wisdom; Keempat, membangun tradisi berfikir dan kritik untuk ilmu; Kelima, membangun pendidikan yang proaktif bukan reaktif; Keenam, gemar membaca sebagai tradisi pendidikan profetik.  
VII.     Penutup
Filsafat profetik adalah pemikiran filosofis yang secara epistimologis merupakan upaya pemikiran reflektif-spekulatif sampai pada pembuktian empirik sehingga menemukan kebenaran normatif dan faktual-aplikatif yang memiliki daya sebagai penggerak umat sehingga terbentuk khaira ummah atau komunitas ideal. Filsafat profetik jika dikontektualisasi dalam pendidikan yang meliputi tujuan pendidikan profetik, materi pembelajaran profetik, metode dan strategi pembelajaran profetik, peserta didik dan pendidik.
Konsep filsafat dan budaya profetik yang terdapat dalam karya-karya Ahmad Tohari memiliki bentuk yang khas yaitu perpaduan antara tradisi Islam Timur tengah, pesantren  dan Jawa yang memuat nilai Transendensi, liberasi dan humanisasi.

·         Rangkuman dari Buku Prophetic Education, Karya Dr. Muh. Roqib, M.Ag